MENJADI AYAH YANG BAIK

              Ayah yang baik. Kata baik yang ada dalam kalimat ini tentunya menggambarkan kondisi atau keadaan yang meyenangkan dan disenangi oleh kebanyakan orang. Pertanyaan yang kemudian mungkin timbul adalah ayah yang baik itu seperti apa? Ayah yang selalu memberi apa yang diminta anaknya kah? Ayah yang tidak pernah memarahi anaknya kah? Atau ayah yang selalu tersenyum sama anaknya ? Mungkin sebagian orang akan menjawab yaa, tapi mungkin juga ada yang akan menjawab sebaliknya. Ayah adalah sebuah panggilan sayang dan hormat dari seorang anak.  Prediket ini langsung disandang oleh seorang manusia berjenis kelamin laki-laki manakala dia dikaruniai seorang atau beberapa orang anak. Timbul pertanyaan apakah menjadi ayah yang baik itu sulit atau mudah ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin terlebih dulu membahas hal lain.

                Ketika selesai menempuh pendidikan dengan berbagai tingkatannya, mulai dari play group sampai S1,S2 bahkan S3, seseorang pada umumnya mulai berfikir untuk mencari kerja atau membuka lapangan pekerjaan ( yang kedua ini masih sangat jarang terjadi di negeri kita ). Secara alamiah biasanya ia akan memulai karirnya dari posisi yang paling bawah. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, karirnya terus meningkat sampai menduduki posisi menengah atau bahkan posisi puncak di tempatnya bekerja. Untuk mencapai posisi tinggi ini biasanya membutuhkan beberapa persyaratan antara lain pengalaman, latar belakang pendidikan dan pelatIhan-pelatihan yang pernah diikuti guna mengupdate ilmunya dengan perkembangan-perkembangan terbaru. Ketika seseorang bercita-cita ingin menjadi seorang manajer, barang kali ia akan berupaya untuk meningkatkan pengetahuannya dengan mengambil kuliah magister manajemen atau yang lainnya. Atau ia akan rajin mengikuti seminar-seminar baik karena ditugaskan oleh kantornya atau atas inisiatif sendiri. Untuk mencapai kedudukan yang baik di tempatnya bekerja ini, sepertinya ada beberapa upaya yang mungkin bisa ditempuh dan tersedia pula saranan-sarana formal ataupun non formal seperti sarana pendidikan ataupun pelatihan yang memberikan ilmu-ilmu secara terjadwal dan terprogram. Sarana ini bisa memberikan pengetahuan ataupun keterampilan bagi pesertanya yang dapat digunakan untuk meraih posisi yang baik atau puncak dalam karir mereka.

                Bagaimana kalau kita ingin menjadi ayah yang baik ( memiliki posisi baik di mata anak-anak atau istri ) ? Apakah juga ada sarana atau fasilitas pelatihannya? Kebanyakan dari kita ( bisa jadi saya salah ), tapi yang jelas saya merasa bahwa terkadang kita tidak melakukan upaya-upaya untuk bisa menjadi ayah yang baik. Seperti ungkapan di awal bahwa prediket ayah akan secara otomatis disandang ketika istri orang tersebut melahirkan anak. Prediket ini didapat tidak dengan jalan yang terlalu panjang seperti ketika kita ingin menjadi manajer di BUMN misalnya. Barang kali selama ini ada tapi saya pribadi belum mengetahui, jika ada sarana pendidikan atau pelatihan yang diselenggarakan untuk mencetak ayah-ayah yang baik. Kebanyakan dari ayah-ayah termasuk saya menjalani prediket ini seperti air mengalir saja. Sebagian ayah-ayah mungkin sudah menjadi ayah-ayah yang baik ( Alhamdulillah = semoga bisa menularkan ilmunya kepada yang belum termasuk saya ). Bagi yang menjalani prediket ayah yang seperti air mengalir saja ini, barang kali kita perlu merenungkannya lagi bahwa prediket ayah ini memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Kita harus menjadi ayah yang baik bagi anak-anak kita. Dan untuk menjadi ayah yang baik tersebut, kita juga harus terus mengupdate pengetahuan kita tentunya dengan ilmu-ilmu yang erat hubungannya dengan prediket ayah ini.

                Menjadi ayah yang baik harus menjadi cita-cita semua ayah-ayah di bumi ini. Standar baik yang mana yang kita pakai? Sebagai seorang muslim, standar ayah yang baik tentu saja didasarkan pada ajaran Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Dalam kedua sumber ini tentunya banyak ajaran-ajaran yang menuntun kita untuk meraih posisi ini. Ayah yang baik akan selalu belajar bagaimana menjadi ayah yang baik karena sebetulnya untuk meraih prediket tersebut ada ilmunya. Dan untuk menguasai ilmu tersebut tentu saja kita harus meluangkan waktu kita untuk mempelajarinya. Alangkah baik lagi jika ada pelatihan-pelatihan ataupun pusat-pusat bimbingan yang khusus menyelenggarakan pelatihan ataupun konsultasi bagaimana caranya menjadi ayah yang baik.

                Menurut pandangan  pribadi saya, ayah yang baik adalah ayah yang bisa mengikuti jejak Rasulullah dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Ayah yag baik adalah ayah yang mengasihi anak-anaknya dengan kasih sayang yang tulus, ayah yang memiliki program untuk pendidikan anak-anaknya secara komprehensif ( umum dan agama ), ayah yang tidak pernah berkata-kata kasar pada anak-anaknya, ayah yang tidak pernah sekalipun marah pada anak-anaknya dengan alasan apapun, ayah yang menasehati anaknya dengan penuh kasih dan kelembutan serta selalu senyum walau seperti apapun sikap anak-anaknya ( nakal, bandelnya anak-anak adalah hal yang biasa; bila dilihat dari sisi berbeda yag semula kita nilai bandel bisa jadi berbuah positif ), ayah yang selalu menemani anak-anaknya belajar, ayah yang mengajarkan anak-anaknya mengaji, ayah yang punya waktu untuk menanamkan budi pekerti luhur kepada anak-anaknya, ayah yang selalu punya waktu untuk bermain bersama anak-anaknya, ayah yang bersikap tegas tapi tetap lembut menegur anaknya ketika anaknya melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama, ayah yang sedapat mungkin bisa memberikan kecukupan materi bagi anaknya, ayah yang bisa memberikan tempat tinggal yang nyaman bagi anaknya ( nyaman tidak berarti mewah ), ayah yang bisa menjadi teman diskusi bagi anaknya, ayah yang selalu member contoh yang baik bagi anaknya, ayah yang merasa khawatir kalau anaknya tidak sukses dalam kehidupannya, ayah yang menanamkan keberanian pada anaknya dan lain sebagainya. SEMOGA KITA TERUTAMA SAYA BISA MENJADI AYAH YANG BAIK. MASUKAN DARI SIAPA SAJA YANG AKAN MEMPERKAYA KHASANAH DAN MEMPERCEPAT TERCIPTANYA AYAH-AYAH YANG BAIK SANGAT DIHARAPKAN.

10 Tanggapan to “MENJADI AYAH YANG BAIK”

  1. ayah yang bik tahu kapan ia harus menjadi ayah,kapan harus menjadi teman,kapan harus jadi kekasih.ok i like this

  2. Sebagai muslim untuk menjadi ayah yang baik dengan mencontoh sikap Nabi Muhammad SAW terhadap keluarganya

  3. Subahanallah….., bagus sekali atrikelnya. Aku beruntung bisa membaca artikel ini. Insya Allah aku akan menerapkannya karena sebentar lagi aku akan menjadi ayah…

  4. Menjadi seorang ayah tidaklah mudah dan gampang.Harus teliti dan cermat.Jangan terlalu mengekang keinginan anak.Karena akan menimbulkan depresi terhadap anaknya.Akan tetapi sebagai orang tua pun wajib memantau semua kegiatan baik yang positif ataupun negatif.Hal yang terpenting adalah berdoa kepada Tuhan YME dan tetap berusaha menjaga keharmonisan dalam keluarga.Contohlah sifatnya Nabi Muhammad SAW.Trims….

  5. novita sari hutagaol Says:

    ya aku setu kalau menjadi ayah yang baik

    harus tersenyum kepada anak nya tetapi ada kawan q ayah nya tidak perna tersenyum buat anak nya nama nya desi knp bigitu???????

    tolong di jawab ya pak pertanyaan q itu???????????

  6. kapan ya aku bisa menjadi ayah kayak gitu betapa bahagiaya diriku .

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: