Archive for the Dunia Farmasi Category

BIJAK MEMILIH OBAT

Posted in Dunia Farmasi, informasi kesehatan on Desember 2, 2010 by yardapoteker

              Tidak diragukan lagi bahwa selama hidup kita pasti bersentuhan dengan yang namanya obat. Obat sudah menjadi salah satu bagian terpenting atas keberlangsungan hidup kita. Masa kanak-kanak dan usia senja adalah masa-masa dimana frekuensi penggunaan obat menjadi tinggi. Daya tahan tubuh di masa kanak-kanak yang belum matang, menyebabkan penyakit sering menyerang sementera pertahanan tubuh yang makin lama makin berkurang akibat kemunduran fungsi organ tubuh pada masa usia senja juga memberikan akibat yang sama. Walhasil kebutuhan akan obat menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindarkan. Di sinilah persoalan itu dimulai. Harga obat yang tidak bisa dibilang murah atau bisa dikatakan mahal ( tergantung obat mana yang dipilih ) sering membuat konsumen obat menjerit. Menjerit karena dihadapkan pada pilihan yang sulit. Kalau obat tidak ditebus maka harapan sembuh dari sakit menjadi kecil, sementara isi kantong menjadi kendala untuk membelinya. Sehingga tidak sedikit masyarakat yang lebih memilih memelihara sakitnya ( menahan ) karena ketidakmampuan untuk membeli obat.

              Pemerintah sebenarnya telah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi ketidakterjangkauan obat oleh masyarakat. Salah satu dari upaya tersebut adalah dengan menggalakkan penggunaan obat generik. Harga obat generik yang diatur oleh pemerintah diharapkan bisa memudahkan akses masyarakat terhadap obat terutama untuk kalangan menengah ke bawah. Ini bukan berarti obat generik tidak bisa bermanfaat untuk kelompok menengah atas karena pada dasarnya respon tubuh terhadap obat  tidak mengenal status ekonomi seseorang. Memang sampai saat ini mungkin masih ada anggapan yang berkembang di masyarakat  yang menganggap bahwa obat generik tidak seampuh obat paten. Idealnya anggapan ini tidak benar karena sesuai dengan jaminan yang diberikan pemerintah yang mengatakan bahwa obat generik sama khasiatnya dengan obat non generik. Apabila dalam prakteknya misalnya ternyata jaminan ini tidak benar, maka masyarakat tentunya berhak meminta tanggung jawa kepada pemerintah selaku pihak yang memberikan izin terhadap beredarnya obat di tengah masyarakat.

              Pengguna atau pemakai obat atau pasien dalam hal ini memiliki peranan yang sangat penting dalam memilih obat yang akan digunakannya. Tentu hal ini tidak sama dengan seorang pasien mendikte dokter dalam menentukan pilihan obat atas penyakitnya. Penetapan obat yang tentu harus didasarkan kepada hasil diagnose penyakit oleh dokter. Umpanya dokter menetapkan amlodipin untuk mengatasi keadaan hipertensi seorang pasien. Pilihan terhadap amlodipin ini adalah sepenuhnya kewenangan dokter berdasarkan keilmuan yang dipahaminya. Lalu dimana peran seorang pasien? Pasien berperan dalam hal menentukan produk mana yang akan dia gunakan. Seperti kita ketahui bahwa amlodipin adalah nama zat berkhasiat atau nama obat itu sendiri. Amlodipin dijual ke konsumen dalam beberapa merek dagang, mulai dari orisinil, generik bermerek dan generik. Banyak pabrik obat yang memproduksi obat yang mengandung amlodipin ini dengan nama merek yang mereka sukai. Banyaknya pabrik yang tertarik untuk memproduksi obat itu tentulah karena perhitungan bisnis, bahwa obat ini akan banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Kita ketahui bahwa penyakit hipertensi adalah penyakit yang banyak penderitanya dan merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan yang sangat lama atau bahkan seumur hidup. Ingat yang bekerja dalam menyembuhkan penyakit adalah zat yang bernama amlodipin tadi, bukan merek A atau B atupun C. Selagi yang dikandung oleh obat tersebut adalah amlodipin, maka seyogiyanya obat tersebut akan berkhasiat sama.

              Bagaimana pasien berperan? Pertama bisa dengan meminta ke dokter yang memeriksa agar pada resep dituliskan obat generik saja. Kedua jika dokter terlanjur menuliskan resep dengan produk bermerek, maka pasien bisa menanyakan di apotek tempat resep tersebut ditebus, apakah obat bermerek yang ditulis di resep tersebut ada produk generiknya. Atau jika produk generiknya tidak ada, alternative lain adalah menanyakan apakah ada obat dengan kandungan yang sama tetapi dengan merek berbeda yang harganya lebih murah. Ingat bahwa di dalam peraturan pemerintah tentang kefarmasian, pasien memiliki hak untuk menentukan pilihan obatnya ( sekali lagi memilih jenis produk baik merek atau generiknya ).

              Hal yang yang sangat penting diketahui oleh pasien adalah bahwa alternatif yang lebih murah untuk memperoleh kesembuhan dan kesehatan sudah tersedia. Sekarang tinggal pasien yang menentukan. Apakah mau mendapatkan kesehatan itu dengan harga yang lebih mahal sementara hal serupa sebetulnya bisa diperoleh dengan biaya yang lebih murah.

ISTILAH-ISTILAH KHASIAT OBAT

Posted in Dunia Farmasi, informasi kesehatan on Desember 1, 2010 by yardapoteker

ISTILAH-ISTILAH KHASIAT OBAT

Sebagai pengguna obat ada baiknya kita mengetahui istilah-istilah yang umum dipakai berkaitan dengan khasiat obat. Beberapa istilah tersebut adalah sebagai berikut :

  • ANTIPIRETIK            :  Obat-obat yang khasiatnya adalah sebagai penurun panas tubuh ketika mengalami demam. Contoh obat yang paling populer sebagai antipiretik adalah parasetamol/ acetaminophen.
  • ANALGESIK              :   Obat-obat yang kerjanya adalah menghilangkan rasa sakit/ nyeri yang bisa disebabkan oleh berbagai penyebab seperti rasa nyeri pada sakit gigi, rematik, luka dan sebagainya. Sifat dari obat jenis ini hanyalah menghilangkan keluhan  sakit/ nyeri tetapi tidak menyembuhkan/ menghilangkan penyebab sakit/ nyerinya. Contoh obatnya adalah aspirin, tramadol dan lain-lain. Parasetamol selain berkhasiat sebagai antiperetik, juga bisa digunakan sebagai analgesic.
  • ANTITUSIF                :    Obat-obat yang khasiatnya adalah sebagai penekan pusat batuk. Tepat digunakan pada batuk yang tidak produktif atau batuk kering. Tidak tepat digunakan pada batuk berdahak kerena tidak akan bisa mengeluarkan dahar dari saluran pernafasan.
  • EKSPEKTORAN        :    Obat-obat yang berkhasiat sebagai pengencer dan mengeluarkan dahak dari saluran pernafasan ketika batuk. Sehingga obat jenis ini merupakan pilihat tepat pada batuk yang produktif atau batuk berdahak.
  • DECONGESTAN        :    Obat-obat yang bekerja sebagai pereda hidung yang tersumbat seperti pada keadaan pilek.
  • ANTIHISTAMIN        :   Obat-obat yang bekerja dalam mengatasi keadaan alergi dengan melakukan pengikatan atau penetralan terhadap histamin sebagai penyebab alergi
  • DIURETIK                  :    Obat-obat yang kerjanya adalah meningkatkan produksi  urin/ kencing guna mengurangi cairan yang berlebih di dalam tubuh seperti pada keadaan udem/ bengkak akibat penyakit hati atau pada penanganan hipertensi.
  • ANTIHEMOROID      :   Obat-obat yang berguna untuk mengatasi wasir/ embeyen.
  • VASODILATOR          :    Obat-obat yang kerjanya adalah memperlebar pembuluh darah agar tekanan darah menjadi turun.
  • ANTIPLATELET         :    Obat-obat yang berkhasiat sebagai pencegah terjadinya penggumpalan darah atau yang biasa kita kenal dengan pengencer darah, contohnya adalah warfarin, aspirin dosis rendah, dan lain-lain.
  • ANTIDEPRESAN       :    Obat-obat yang berkhasiat dalam mengatasi keadaan depresi atau gangguan mental.

OBAT GENERIK YANG BEREDAR DI INDONESIA

Posted in Dunia Farmasi, informasi kesehatan on November 30, 2010 by yardapoteker

              Saat ini seiring dengan semakin majunya teknologi informasi tentunya sudah semakin banyak masyarakat yang mengetahui tentang obat generik. Sekedar mengingatkan kembali bahwa obat generik adalah obat yang penamaannya ditulis sesuai dengan nama bahan utama/ zat aktif/ zat berkhasiat obatnya. Misalnya tablet amoksisilin merupakan obat generik sedangkan amoxil atau amoksan yang keduanya mengandung amoksisilin adalah produk obat dengan nama dagang. Sekali lagi kami ingin mengingatkan di sini bahwa istilah obat paten yang selama ini dipahami masyarakat kurang tepat. Karena paten oleh sebagian masyarakat diidentikkan dengan lebih ampuh sehingga ada yang menganggap wajar jika harganya jauh lebih mahal dibandingkan produk generik. Obat dengan nama dagang yang namanya dipatenkan bisa kita kelompokkan menjadi dua. Obat orisinil yakni obat dengan nama paten yang merupakan produk pertama/ penemu obat tersebut. Yang kedua adalah obat dengan nama paten tapi bukan merupakan produk yang pertama untuk obat tersebut, obat ini kita sebut dengan obat generik bermerek. Contoh obat generic bermerek ini sangat banyak di Indonesia antara lain panadol, amoksan, kimoxil, santibi, dan lain sebagainya.

              Kembali ke persoalan obat generik. Obat generik adalah obat yang harganya diatur oleh pemerintah melalui peraturan menteri kesehatan ( permenkes ), tentunya peraturan ini bertujuan untuk mengendalikan harga obat generik agar tetap terjangkau oleh segala lapisan masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah. Dengan harga yang terjangkau diharapkan masyarakat tidak sulit untuk memperoleh obat saat mereka menderita suatu penyakit. Permasalahannya sekarang memang belum semua jenis obat diproduksi dalam bentuk generiknya. Beberapa faktor penyebabnya seperti belum berakhirnya masa paten suatu obat orisinil. Seperti yang kita ketahui bahwa pasa paten obat orisinil berlaku selama kurang lebih 20 tahun. Contohnya adalah Viagra. Masa paten Viagra yang belum berakhir tidak memungkinkan produsen obat lain untuk memproduksi obat dengan kandungan zat aktif yang sama baik sebagai obat generik maupun obat generik bermerek. Faktor lain adalah dari sudut pandang bisnis. Harga obat generik yang sangat murah terkadang tidak menarik perhatian produsen obat karena tentunya tidak akan memberi keuntungan yang menarik. Suatu alasan yang sepertinya masuk akal secara logika manusia.

              Sebagai konsumen pada dasarnya tentunya kita menginginkan murahnya biaya kesehatan khususnya biaya obat. Untuk itu tentunya kita perlu mengetahui obat-obat apa saja yang bentuk generiknya telah beredar di Indonesia. Dengan pengetahuan ini kita menjadi memiliki alternatif dalam memilih obat, apakah mau obat orisinil yang harganya kadang selangit, atau obat generik bermerek yang harganya terkadang tidak terpaut jauh dari obat orisinil atau obat generik yang memiliki khasiat sama dengan harga yang jauh-jauh lebih murah. Sekali lagi mengenai khasiat obat generik seperti yang selalu disosialisasikan oleh pemerintah bahwa obat generik memiliki khasiat yang sama dengan yang bukan generik. Jadi dalam hal ini jika terjadi sesuatu berkenaan dengan khasiat obat generik yang misalnya tidak memenuhi syarat, tentunya masyarakat berhak menuntut pemerintah selaku pihak yang memberi izin atas beredarnya obat generik tersebut.

              Departemen kesehatan Republik Indonesia pada bulan Januari 2010 telah mengeluarkan daftar obat generik yang beredar di Indonesia yang mencakup nama obat, bentuk kemasan dan harganya. Ada 431 obat dengan indikasi yang sangat beragam. Dari daftar tersebut terdapat obat untuk  penyakit-penyakit berikut : antimalaria, infeksi cacing, asam urat, penenang, depresi, epilepsi, batuk, hipertensi, asma, antibiotic, maag/ tukak lambung, wasir, migraine, Parkinson, aqua pro injeksi, analgesic/penghilang sakit, vitamin, asam folat, peluruh kencing, infeksi virus, tetes mata, krim berbagai indikasi, alergi, antimuntah, TBC, infeksi jamur, oralit, kencing manis, hipertensi, cairan infus glukosa, rematik, salep mata dan anti kolesterol. Untuk lebih detilnya silahkan di unduh/ download link berikut (http://www.binfar.depkes.go.id/data/files/1265667046_HK.03.01_MENKES_146_I_2010.pdf ).              

              Sebagai pengguna dan calon pengguna obat, ada baiknya kita mengetahui daftar obat-obat generik ini. Kalau kita bisa sembuh dengan biaya yang murah kenapa kita harus membeli yang mahal. Sebagai contoh, sewaktu saya aktif masih aktif di apotek sekitar 2 tahun yang lalu, harga amoksisilin generik bermerek atau orisinil bisa mencapai 3 sampai 7 kali harga obat generiknya. Satu strip generik harganya tidak sampai lima ribu rupiah, sementara generik bermerek atau orisinilnya bisa mencapai 30 ribu rupiah atau lebih untuk jumlah yang sama.                            

SEBAIKNYA PENGGUNA OBAT MEMILIKI BUKU ISO DI RUMAHNYA ( Informasi Spesialite Obat )

Posted in Dunia Farmasi on November 26, 2010 by yardapoteker

              Beberapa tahun yang lalu saat saya masih menjadi apoteker penanggung jawab di salah satu cabang apotek Kimia Farma di daerah Sanur Bali, beberapa kali saya melayani konsumen asing yang datang ke apotek dengan membawa buku yang berisikan nama-nama obat. Konsumen asing tersebut pada saat itu menunjukkan kepada saya obat yang sedang dicarinya yang ada di dalam daftar obat di dalam buku yang dia bawa. Obat yang dia tunjukkan itu adalah obat dengan nama dagang yang merupakan produk obat di negara asalnya. Tetapi dengan melihat komposisi yang dikandung oleh obat tersebut saya segera memberitahukan kepadanya bahwa obat yang sedang dia perlukan ada di apotek saya dengan nama dagang lain dan merupakan produk Indonesia. Konsumen atau pasien asing tersebut lalu menyetujui untuk membeli obat yang saya tawarkan.

              Kejadian tersebut membuat saya berfikir bahwa ternyata pengguna obat asing tersebut memiliki pemahaman yang baik tentang obat yang digunakannya. Dia tidak mempermasalahkan merek atau nama dagang dari obat, tetapi yang penting baginya adalah zat aktif/ zat berkhasiat yang dikandung oleh produk obat tersebut. Hal lain yang saya fikirkan adalah bahwa ternyata konsumen asing tersebut ternyata tidak asing dengan buku yang di dalamnya memuat obat-obat yang beredar di tengah masyarakat. Kondisi orang asing tersebut saya bandingkan dengan konsumen domestik yang pernah saya layani. Belum pernah saya menemukan konsumen lokal yang datang ke apotek dengan membawa-bawa buku sejenis. Bahkan tidak jarang ada yang terheran-heran ketika saya memperlihatkan buku tersebut kepada mereka.

              Sebenarnya di Indonesia juga ada buku yang berisi tentang nama-nama obat yang beredar di Indonesia. Tidak hanya sekedar berisi nama-nama obat saja, tetapi juga mencakup informasi tentang obat tersebut secara ringkas. Informasi yag bisa ditemukan antara lain tentang nama dagang yang beredar, kandungan zat aktif obatnya, aturan penggunaan obat ( dosis, frekuensi pemakaian ), efek samping dan hal-hal lainnya. Dari buku tersebut kita juga bisa mengetahui misalnya bahwa ternyata amoksisilin diproduksi oleh beberapa pabrik obat dengan nama dagang yang mereka sukai. Sehingga umpamanya suatu saat kita membutuhkan obat yang ditulis dengan nama dagang dan ternyata kita sulit mendapatkan merek tersebut, kita tingga melihat komposisi obat tersebut dan mencari nama dagang lain yang mengandung obat yang sama.

              Nama buku yang memuat informasi tersebut adalah ISO Indonesia ( Informasi Spesialite Obat Indonesia ). Buku tersebut bisa dibeli di toko buku seperti Gramedia. Mengingat begitu besar manfaat dari buku ISO ini, sudah selayaknya masing-masing keluarga Indonesia memilikinya di rumah masing-masing. Harganya juga terjangkau. Dengan memiliki buku ini maka sedikit demi sedikit kita akan jadi lebih familiar dengan obat yang menjadi salah satu kebutuhan pokok kita.

             

MENGENAL BIOEKIVALENSI OBAT

Posted in Dunia Farmasi, informasi kesehatan on November 25, 2010 by yardapoteker

              Kata Bioekivalensi obat barangkali masih sangat asing ditelinga banyak orang terutama bagi orang-orang yang jarang atau tidak terkait langsung dengan obat. Pengertian bioekivalensi obat bisa kita jelaskan secara sederhana seperti ini. Ketika suatu Obat orisinil atau produk pertama pemilik hak paten yang biasanya sekaligus sebagai pihak yang menemukan obat dipasarkan ke tengah-tengah masyarakat, obat tersebut pastinya telah melewati serangkaian pengujian ilmiah/ keilmuan. Pengujian yang antara lain membuktikan bahwa obat tersebut memiliki khasiat seperti yang diharapkan ( khasiat dapat diperkiran sesuai dengan dosis yang digunakan ), aman saat digunakan dalam arti tidak menimbulkan efek negatif yang membahayakan dengan proses pembuatan yang sudah terstandar. Dengan kata lain ketika produk orisinil ini diberikan ke pasien, tenaga kesehatan seperti dokter atau apoteker akan bisa meramalkan efek dari obat tersebut. Ketika masa paten obat orisinil ini berakhir ( sekitar 20 tahun ), maka untuk obat-obat yang banyak dibutuhkan biasanya menarik perhatian pihak produsen lain untuk memproduksi obat dengan bahan aktif/ bahan berkhasiat yang sama dengan proses dan bahan tambahan yang tentunya tidak sama. Produk terakhir yang kita kenal dengan obat generic atau generic bermerek ini agar memiliki khasiat dan keamanan yang sama dengan obat orisinilnya, maka mereka harus memenuhi syarat bioekivalen. Artinya ketika seorang pasien mengkonsumsi suatu obat, baik yang berupa produk orisinil maupun generiknya, pasien tersebut akan mendapatkan efek yang sama.

              Kenapa bioekivalensi obat ini menjadi penting? Apabila obat orisinil dan obat generic diberikan ke pasien dalam bentuk zat berkhasiat murni tanpa bahan tambahan lain, bioekivalensi tidak akan menjadi masalah karena dapat dipastikan kedua obat tersebut akan memberikan efek yang sama. Dalam prakteknya tidaklah seperti itu, karena obat tidak hanya terdiri dari zat berkhasiat saja, melainkan dicampur dengan bahan-bahan lain. Di samping perbedaaan terhadap bahan tambahan, perbedaan dalam proses pembuatan juga akan mempengaruhi suatu obat. Maka mungkin kita pernah mendengar atau mengalami ada dokter yang hanya mau memakai obat berek tertentu yang mungkin salah satu alasannya adalah masalah keyakinan ini.

              Di negara maju seperti Amerika Serikat, ketika produk generic dari suatu obat orisinil dibuat, sebelum dijual di pasaran, obat generic tersebut harus lolos uji bioekivalensi obat. Hal ini bertujuan untuk melindungi masyarakat terhadap efek obat. Bagaimana dengan di Indonesia? Sepengetahuan saya, syarat bioekivalensi obat ini belum menjadi sebuah persyaratan. Alasan utamanya adalah besarnya biaya yang dibutuhkan oleh produsen obat untuk melakukan pengujian bioekivalensi obat ini. Pengujian bioekibalensi obat ini melibatkan manusia sebagai objek percobaan. Secara singkat terhadap manusia yang menjadi objek percobaan tadi diberikan obat orisinil dan obat generic dalam waktu yang tentunya tidak bersamaan. Kemudia sample darah orang tersebut diambil untuk seterusnya dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat tertentu. Kemudian hasil kedua sample ( orisinil dan generic ) dibandingkan. Apabila sama maka obat generic tersebut dinyatakan bioekivalen dengan obat orisinilnya dan tentunya akan memberikan efek yang sama saat digunakan.

MENGENAL BENTUK OBAT

Posted in Dunia Farmasi, informasi kesehatan on November 10, 2010 by yardapoteker

Obat sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok kita. Di saat kita mendengar salah seorang teman yang lagi sakit, hal pertama yang biasanya kita tanyakan adalah apakah teman tersebut sudah minum obat?  Di sebagian kalangan masyarakat terkadang obat identik dengan pil. Barangkali karena sejak dahulu, obat yang dikonsumsi oleh m,anyarakat memang terbanyak dalam bentuk pil sehingga istilah pil tersebut sangat populer di tengah masyarakat.

 

Selain dalam bentuk pil, obat diproduksi dalam beberapa bentuk yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Bentuk obat tersebut dapat kita kelompokkan sebagai berikut :

  • Obat injeksi/ suntikan ( parenteral ). Obat jenis ini berupa cairan yang dikemas dalam wadah kaca berupa ampul ataupun vial. Kelebihan dari obat jenis ini adalah efek yang ditimbulkannya lebih cepat terutama yang langsung disuntikkan ke pembuluh darah. Kekurangannya adalah cara penggunaannya yang memerlukan keterampilan khusus seperti oleh perawat atau dokter.
  • Obat oral. Kelompok obat ini merupakan obat yang penggunaannya paling banyak. Hal ini disebabkan cara pemakaiannya yang lebih nyaman dibandingkan obat suntik. Kelemahannya adalah efek obat lebih lama dibandingkan obat suntik serta dosis yang dibutuhkan lebih besar. Kebutuhan dosis yang lebih besar ini disebabkan karena obat sebelum masuk ke pembuluh darah mengalami beberapa proses yang dapat membuat sebagian obat menjadi tidak aktif. Obat oral tersedia dalam bentuk caik ataupun padat. Bentuk cair yang oleh banyak orang disebut sirup yang juga ada dalam beberapa bentuk ( larutan, suspensi basah, suspensi kering ). Sedangkan bentuk padatan berupa tablet, kapsul, dan pil. Obat dalam bentuk caik memberikan efek yang lebih cepat dibandingkan bentuk padat. Dari cara penggunaannya bentuk padat ini ada yang ditelan sehingga masuk ke lambung dan ada pula yang hanya diletakkan di bawah lidah sampai melarut oleh air ludah. Ada juga yang dihisap sebelum ditelan disamping dikunyah seperti tablet obat maag.
  • Obat tetes hidung, tetes mata dan tetes telinga. Sesuai dengan namanya maka obat jenis ini ada dalam bentuk larutan yang penggunaannya dengan cara meneteskan ke dalam bagian tubuh yang sakit.
  • Obat dalam bentuk suppositoria. Penggunaan obat jenis ini yakni dengan cara memasukkan/ menanamkan ke dalam lubang anus ataupun lubang kemaluan. Misalnya suppositoria untuk obat keputihan, ambeyen dan sebagainya.
  • Obat inhalasi dan spray yaitu obat yang penggunaannya dengan cara dihirup atau disemprot seperti pada pengobatan asma.
  • Obat oles yakni obat yang digunakan dengan jalan mengoleskannya ke bagian luar tubuh seperti kulit. Tersedia dalam beberapa bentuk yakni salep, krim, lotion

MENGENAL DOSIS OBAT

Posted in Dunia Farmasi, informasi kesehatan with tags , on Juli 15, 2010 by yardapoteker

Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing dengan istilah dosis ini. Dosis bisa diartikan dengan jumlah obat yang harus digunakan dan dinyatakan dalam satuan tertentu. Satuan yang paling banyak digunakan adalah milligram (mg), satuan yang lain bisa microgram, internasional unit ( IU ) untuk vitamin, dan lain sebagainya. Contoh : bagi orang dewasa dosis lazim dari obat penurun panas/ penghilang sakit parasetamol adalah 500 mg. Contoh lain adalah digoksin, salah satu obat jantung, dosisnya hanya 0,5 mg. Beda obat beda pula dosisnya. Besarnya dosis suatu obat didapatkan dari hasil penelitian yang tidak singkat.

 

Dalam dunia kedokteran dan farmasi dikenal istilah beberapa jenis dosis, yaitu :

  • Dosis lazim yaitu jumlah dosis acuan pemakaian obat. Dosis ini akan memberikan khasiat sesuai dengan yang diharapkan
  • Dosis maksimal yaitu dosis terbesar yang masih bisa digunakan oleh seorang pasien baik dalam setiap kali pemakaian ataupun setiap harinya.
  • Dosis toksik/ racun yaitu dosis obat yang melampui dosis maksimalnya. Seperti kita ketahui bahwa dalam dunia pengobatan beda antara obat dan racun hanya terletak pada jumlah dosisnya.

Jika obat digunakan dibawah dosis lazimnya, maka suatu obat tidak akan cukup memberikan khasiat sedangkan apabila dosis yang diberikan melebihi dosis maksimalnya maka efek racun dari suatu obat akan terjadi pada penggunanya.

 

Ketepatan jumlah dosis menjadi salah satu bagian yang paling penting dalam memperoleh khasiat dari obat tersebut. Informasi mengenai dosis obat dapat diperoleh dari etiket atau brosur yang disertakan pada suatu produk obat atau dengan menanyakannya pada apoteker anda. Penggunaan dosis dibawah dosis lazim sering terjadi tanpa kita sadari. Kejadian yang paling sering adalah saat kita menggunakan obat dalam bentuk sirup dengan menggunakan sendok makan yang ada di rumah. Perlu diketahui bahwa sendok rumah tidak memiliki ukuran volume yang standar. Suatu ketika saya pernah mengukur tiga jenis sendok makan yang ada di rumah, hasilnya volume ketiga sendok tersebut berbeda, yakni antara 7 sampai 10 mililiter. Padahal ketika di etiket obat dikatakan satu sendok makan, maka itu artinya setara/sama dengan 15 mililiter. Sehingga tindakan yang paling tepat ketika kita menggunakan obat dalam bentuk sirup adalah mengukurnya dengan menggunakan sendok takar obat, bukan sendok makan atau sendok the yang ada di rumah.

 

Keracunan obat bisa terjadi karena dosis yang diminum melebihi dosis anjuran. Misalnya karena merasa ingin cepat sembuh, dosis obat yang seharusnya satu tablet diminum menjadi 2 tablet. Untuk obat-obat tertentu tindakan ini mungkin tidak menimbulkan masalah karena mungkin saja dosis tersebut masih berada di bawah dosis maksimalnya. Tetapi untuk obat lain, akibatnya bisa sangat fatal. Karena di dunia kedokteran dan farmasi dikenal obat yang memiliki indeks terapi sempit. Artinya peningkatan dosis sedikit saja dari obat bisa berefek racun.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.