Sayang juga rasanya karena hari ini saya tidak bisa mencoplos dalam pilkada putaran 2 DKI Jakarta. Tidak mencoblosnya saya kali ini bukan berarti saya memilih menjadi GOLPUT, akan tetapi disebabkan saat saya harus hidup jauh di negeri Sakura. Walau tidak bisa mencoblos, tetapi rasa cinta saya terhadap DKI Jakarta sebagai tempat saya dan keluarga berdomisili, membuat saya tidak lupa untuk mengikuti perkembangan perhelatan rakyat lima tahunan ini.
Pilkada tahun ini memang istimewa. Mulai dari banyaknya pasangan yang ikut andil dalam putaran pertama sampai dengan memanasnya issue SARA di putaran kedua. Rasa antusias saya berbuah kekecewaan pada putaran pertama lalu. Kecewa karena dua dari tiga pasang calon favorit saya tidak lolos ke putaran kedua. Bahkan favorit pertama saya harus puas di posisi ketiga. Tapi saya harus lapang dada menerima segala takdir yang telah menjadi ketetapan ALLAH, SWT. Saya harus belajar menerima segala ketentuanNya dengan ikhlas. Dia maha tahu akan apa yang terbaik bagi rakyat Jakarta.
Kekecewaan saya berlanjut. Saya kecewa karena partai favorit saya selama ini menjatuhkan dukungannya kepada pasangan yang lolos pada putaran kedua yang nota bene bukan pasangan favorit saya. Yaa, saya termasuk masyarakat yang menjagokan Jokowi-Ahok untuk bisa tampil sebagai pemenang di putaran final ini. Salah satu alasan kenapa saya menjatuhkan pilihan kepada pasangan dengan nomor urut 3 tersebut adalah HARAPAN. Yaa, pada pasangan tersebut saya masih memiliki harapan agar Jakarta menjadi lebih baik. Harapan yang sepertinya sudah tidak mungkin lagi didapatkan dari pasangan yang lain. Lelah rasanya melihat Jakarta yang masih dirundung banyak masalah yang tampaknya sulit terselesaikan olek pasangan incumbent yang telah terbukti gagal membawa perbaikan bagi Jakarta ( setidaknya menurut penilaian saya pribadi ). Letih rasanya ketika saya membayangkan betapa tidak nyamannya saat saya menggunakan kendaraan umum dari rumah ke kantor dan sebaliknya beberapa tahun lalu. Begitu juga dengan masalah banjir, Jakarta yang tidak aman dan lain sebagainya.
Isu SARA yang sempat beredar atau bahkan sangat intensif, sempat pula mengusik pilihan saya, akan tetapi setelah membaca pendapat salah satu tokoh utama MUI, saya menjadi cukup lega dengan pilihan saya. Segala sesuatunya tetap saya serahkan sama ALLAH SWT karena Ia yang maha tahu. Saya berharap agar yang terbaik versi Nya lah yang akan terpilih menjadi pemimpin DKI untuk 5 tahun ke depan. Walaupun hati ini cenderung ke nomor 3, tetapi jika Dia berkehendak lain, Saya akan pasrah. Hasil hitung cepat sampai tulisan ini saya muat sangat melegakan hati saya. Semoga pilihan saya tidak salah. Yaa semoga hasil quick qount yang menempatkan JOKOWI-AHOK di posisi pemenang, akan terus berlanjut sampai akhir perhitungan. Semoga DKI Jakarta menjadi kota yang nyaman, ramah, sejahtera bagi seluruh penghuninya. Yaa Allah, berilah Jakarta pemimpin yang terbaik menurut-Mu. Amin