POSITIVE THINGS DARI NEGERI SAKURA ( bagian I )

Salah satu kalimat yang selalu teringat dalam benak saya yang saya dengar dari ceramahnya Ustadz KH. Zainuddin MZ adalah ” Sekalipun keluar dari pantat ayam, kalau itu telur maka ambillah ”. Kalau saya tidak salah mengartikan barang kali yang dimaksud dengan ungkapan tersebut yakni Apapun hal-hal yang nilainya positif sekalipun bukan berasal dari negeri muslim kita dianjurkan untuk mengadopsinya. Nah berpengang dari kalimat bijak tersebut, saya melihat beberapa nilai-nilai positif dari kebiasaan hidup masyarakat Jepang yang bisa diambil.

Saya dan salah seorang teman yang kebetulan sama-sama belajar di Tokyo sering berkomentar bahwa beberapa kebiasaan-kebiasaan Islami sudah dijalankan oleh masyarakat Jepang yang notabene nonmuslim. Beberapa minggu yang lalu saya juga mendengarkan komentar yang sama dari orang Indonesia yang kebetulan kami temui di salah satu tempat di Tokyo. Salah satu teman lain yang sedang belajar di tempat yang cukup jauh ( 2 jam naik pesawat dari Tokyo ) juga menyatakan kebetahannya tinggal di sana disebabkan oleh suasana yang ia rasakan setelah 1,5 tahun masa belajarnya di tempat tersebut. Jadi ini bukan hanya penilaian pribadi saya semata.

Kebiasaan-kebiasaan yang saya maksud adalah sebagai berikut :

  • Tekun dan serius dalam mengerjakan sesuatu

Ini berdasarkan apa yang saya lihat di dalam suasana kerja di dalam laboratorium saya dan dari apa yang saya dengar dari pengalaman beberapa teman. Masyarakat Jepang ketika malakukan pekerjaan sangat serius. Bisa dibilang sangat jarang saya lihat mereka mengobrol atau berkelakar ketika berada dalam jam-jam kerja. Kalau berbicara sepertinya untuk hal-hal yang perlu saja. Mereka sangat tekun menggeluti tugas-tugasnya. Nah ketika jam makan siang/ istirahat ( kira2 mulai jam 12 ) baru mereka manfaatkan untuk bersenda gurau, ngobrol, dan obrolan-obrolan ringan lainnya. Bisa dibilang produktivitasnya sangat tinggi.

  • Bergegas ketika berjalan

Mayoritas masyarakat Jepang selalu bergegas ketika berjalan kaki. Langkahnya cepat sehingga sangat efektif dan efisien terhadap waktu. Barangkali cara mereka berjalan sama dengan ketika orang Indonesia melakukan jalan jepat ketika berolah raga pagi.

  • Terbiasa memberi salam

Masyarakat Jepang terbiasa memberi salam ketika bertemu

  • Tertib ketika di jalan raya

Baik masyarakat yang menggunakan kendaraan bermotor, bersepeda maupun yang berjalan kaki, pada umumnya selalu mematuhi tata tertib berlalu lintas. Di setiap perempatan lampu merah, selalu ada lampu penanda ( merah, hijau, kuning ) baik untuk pengendara bermotor maupun bagi pesepeda dan pejalan kaki. Saat menyeberang bagi pesepeda bersamaan dengan pejalan kaki. Mobil dan sepeda motor biasanya berjalan dengan kecepatan yang tinggi. Hal ini barangkali disebabkan karena mereka yakin bahwa tidak mungkin akan ada pesepeda atau pejalan kaki yang nyelonong untuk melintas di saat lampu hijau untuk pengendara kendaraan bermotor menyala. Begitu juga pesepeda dan pejalan kaki tidak perlu celingak-celinguk kiri kanan ketika ingin menyeberang karena takut ada kendaraan bermotor lewat. Mereka cukup melihat ke arah lampu penanda yang ada di depannya. Leher tidak sakit, jalanpun lancar. Untuk jalan-jalan yang sepi dan jauh dari persimpangan, cara menyeberang sama dengan di Indonesia yakni dengan memperhatikan kiri dan kanan. Tapi jarak antara satu tempat penyeberangan dengan penyeberangan lain biasanya tidak jauh.

  • Disiplin dalam menjaga kebersihan

Ketika kita ingin tinggal menetap di Jepang untuk beberapa waktu yang cukup lama, maka salah satu hal yang harus kita ingat adalah jadwal dan tata cara membuang sampah. Mengenai dua hal tersebut dapat dilihat atau ditanyakan di Kantor Kecamatnnya setempat ( ward office ) atau bisa diakses di situs pemerintah kota atau propinsi setempat. Jadwal pembuangan sampah umumnya 3 kali seminggu dengan hari yang berbeda untuk masing-masing kawasan. Di tempat say, jadwal pembuangan sampah rutin ( ordinary garbage spt sampah dapur, dll ) yaitu pada hari Senin, Rabu dan Jum’at, Untuk sampah yang bisa didaur ulang seperti botol dan lain-lain hari Sabtu. Untuk sampah ukuran besar misalnya ingin membuang meja, kulkas yang rusak, kita harus menelpon call centre bagian pembuangan sampah. Antara palstik dan sampah yang bisa diurai harus dipisah. Waktu membuangnya ditetapkan sebelum jam 8 pagi pada hari pembuangan tersebut. Pokoknya semua terjadwal. Alhasil sepanjang jalan yang saya lalui selama ini jarang sekali saya melihat sampah yang berserakan di jalan. Kota menjadi bersih dan indah. Everything is clean here.

  • Menghargai perbedaan

Waktu pertama kali saya bertemu dengan professor pembimbing, dia bertanya kepada kami ( saya dan teman satu bimbingan ) tentang agama kami. Dia sudah menebak bahwa kami muslim. Kami mengiyakan. Lalu professor tersebut kembali berkata bahwa kami tidak mempermasalahkan agama seseorang. Dia juga tahu bahwa kami tidak makan babi atau minum alkohol, dan ketika kami diperkenalkan kepada orang-orang yang ada di laboratoriumnya, ia juga menginformasikan kepada mereka tentang kami. Dia juga sempat menanyakan apakah kami juga perlu berdoa ( pray ). Saya jawab ” yaa, kami berdoa/ sholat 5 kali sehari”. Lalu ia mempersilahkan kami untuk melakukan sembahyang di tempat manapun di ruang laboratorium tersebut yang bisa digunakan ( You can pray anywhere, katanya )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: