APOTEK DI JEPANG

Hari ini saya pergi ke salah satu apotek komunitas yang ada di sekitar kampus. Tujuan kami ( saya bersama salah seorang teman ) ke sana adalah untuk membeli obat yang diresepkan oleh dokter gigi yang kami peroleh semalam. Ini kesempatan emas bagi saya untuk melakukan banchmark ( studi banding ) antara apotek yang ada di Jepang dengan yang ada di Indonesia. Hasil pengamatan saya sebagai berikut :

1.   Ruangan

Setting ruangan apotek kira-kira sama dengan kebanyakan apotek yang pernah saya lihat di Indonesia. Ruangan terdiri dari counter self medication, counter kasir, dan ruangan peracikan obat.

A)       Counter self medication terdiri dari beberapa rak yang berisi produk-produk yang dijual dengan sistem swalayan dan etalase yang berisi produk dengan sistem nonswalayan.Karena produknya berbahasa Jepang, saya tidak bisa mengenalinya secara detil. Produk yang saya lihat tersedia seperti kebutuhan bayi ( susu, pampers, dot, bedak, dll ), aneka jenis salep dan krim, koyok, beberapa jenis obat tablet seperti aspirin dan lain sebagainya. Kondisinya sepertinya mirip dengan apotek-apotek di Indonesia yang memiliki counter swalayan seperti Kimia Farma

B)       Di counter self medication ini ada meja konsultasi dengan seorang farmasis / apoteker yang siap memberikan pelayanannya.

C)       Counter kasir berupa space tempat kegiatan penerimaan resep, pembayaran dan penyerahan obat dilakukan oleh petugas apotek. Dari apa yang saya alami tadi pagi, proses pembayaran dilakukan ketika obat akan diberikan ke pasien.

D)      Di belakang counter kasir terdapat ruangan peracikan yang dibatasi oleh kaca transparan. Pasien bisa melihat secara langsung kegiatan yang terjadi di dalam ruangan peracikan. Ada sekitar 5 orang apoteker yang sedang bertugas dengan mengenakan jas kerja ( seperti jas laboratorium yang bewarna putih ) dengan mengenakan masker.

E)       Ruangannya sangat nyaman, bersih dengan tempat duduk yang empuk.

2.   Pelayanan

Pelayanan terhadap pasien langsung ditangani oleh apoteker. Dari informasi yang saya terima dari salah seorang sensai ( dosen farmasi ), di Jepang tidak ada tenaga teknisi atau asisten apoteker sehingga segala proses dispensing obat dilakukan oleh apoteker. Kalaupun ada tenaga non apoteker, terbatas hanya satu orang tenaga kasir. Proses pelayanannya sebagai berikut :

A)       Penerimaan resep oleh apoteker

B)       Kita diminta mengisi form yang dugaan saya berisi tentang data2 pasien yang terkait dengan obat seperti riwayat alergi dan sebagainya. Karena informasinya dalam bahasa Jepang dan apotekernya tidak bisa berbahasa Inggris, maka form tadi tidak kami isi.

C)       Proses penyiapan obat di dalam ruang peracikan

D)      Penyerahan obat ke pasien. Obat diserahkan dalam etiket yang sama seperti di Indonesia. Bedanya etiket terbuat dari kertas sedangkan di Indonesia terbuat dari plastik. Informasi yang ada pada etiket tersebut juga sama dengan di Indonesia. Bedanya pada etiket obat di Jepang juga dicantumkan gambar dari obat yang ada di dalamnya. Jadi kesalahan akibat tertukarnya obat menjadi lebih kecil.

E)       Apoteker memberikan informasi tentang nama obat, khasiat dan aturan pakai sambil memperlihatkan obat tersebut pada pasien.

F)       Proses pembayaran.

3.   Lain-lain

Hal baru yang saya temui di sini yang mungkin belum ada di Indonesia adalah ketika pasien menerima obat, mereka juga diberikan satu lembar kertas yang berisi tentang informasi obat yang akan digunakan oleh pasien. Informasi tersebut dimuat dalam kolom-kolom yang berisi nama obat, gambar obat ( bewarna ), khasiat dari obat ( efek ), aturan pemakaian, Interaksi obat dengan obat/ bahan lain serta kolom yang digunakan untuk memuat catatan khusus dari apoteker. Lembaran ini berupa hasil print out komputer yang sudah terprogram.

  1. Harga obat

Untuk 9 tablet antibiotik dengan kandungan cefdinir 100 mg dan antiinflamasi yang mengandung loxoprofen 8 tablet, kami harus membayar dengan harga 620 yen atau kurang lebih Rp 62.000 rupiah. Saya belum bisa membandingkan harga obat ini dengan harga di Indonesia karena belum memiliki informasi tentang itu. Tapi dugaan saya harga obat di Jepang tergolong murah ( informasi ini akan segera saya update setelah mendapatkan informasinya )

 

Itu dulu informasi yang bisa saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya.

Satu Tanggapan to “APOTEK DI JEPANG”

  1. hidayat Says:

    bagaimana dengan pelayanan informasi obat, apakah apoteker disana juga menarik biaya konsultasi?ato harga tsb yang anda bayarkan sudah termasuk jasa konsultasi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: