HIDUP DI JEPANG HARUS AKRAB DENGAN RAMALAN CUACA

Ada pengalaman yang membuat perasaan saya bercampur aduk, malu, geli dan sedikit  gaptek  alias gagap teknologi. Pengalaman ini terjadi pada masa-masa awal keberadaan saya di Tokyo Metro. Saya datang pada musim dingin atau yang lebih keren dengan sebutan winter season atau orang Jepang mengatakan FUYU. Kira-kira  selama sebulan pertama cuaca yang saya rasakan hanya dingin, mata hari tetap memancarkan sinarnya dengan terang. Agak susah mendeskripsikan hawa di sini sehingga teman saya pernah mengatakan bahwa cuacanya panas tapi dingin. Saya cukup bingung juga mengartikan istilah itu. Panas dan dingin tentu tidak mungkin dirasakan secara bersamaan karena merupakan dua istilah yang saling berlawanan. Akhirnya setelah mengecek di salah satu web site prakiraan cuaca, saya menemukan istilah yang tepat untuk itu sebagai berikut : Matahari bersinar cerah, suhu 25 derajat Celcius tetapi yang dirasakan seperti 10 derajat Celcius, kira-kira begitu. Tapi bukan ini bagian yang menggelikan tersebut.

Karena hari tidak pernah hujan, saya berangkat ke kampus seperti biasa tanpa membawa payung. Tengah aysik bekerja atau lebih tepatnya belajar di depan komputer, teman Jepang yang satu laboratorium datang dengan membawa payung. Saya jadi heran lalu saya tanya” Kenapa bawa payung emangnya hujan?” Dia jawab “tidak tapi nanti sore”. Ketika hari telah malam saya dan teman Indonesia yang senasib segera bersiap untuk pulang. Sampai di luar kampus ternyata benar apa yang disampaikan teman Jepang tadi bahwa hari hujan. Kami sempat bingung gimana caranya bisa sampai ke stasiun di tengah hujan begitu. Tapi karena hujannya sedang ( tidak deras tapi bukan pula gerimis ) akhirnya kami putuskan untuk bergegas. Ternyata setelah sekian lama berlari-lari kecil di jalan, tak satupun orang yang melakukan hal seperti kami alias hanya kami berdua saja yang berjalan di tengah hujan tanpa payung. Semua orang-orang di jalan tersebut berjalan dengan nyamannya di bawah payung mereka masing-masing. Saya dan teman Indonesia tadi sambil berlari-lari kecil dan saling berkata. Kok kita  aja yang gak pake payung yaa, jadi malu nih. Singkat cerita malam itu juga di salah satu toko di sekitar stasiun, kami putuskan untuk membeli payung masing=masing.

Keesokannya dengan perasaan lega karena telah memiliki payung, kami berangkat ke kampus dengan membawa payung tersebut. Setelah sampai di stasiun, kami baru menyadari bahwa ternyata hari itu hanya kami berdua pula orang yang membawa payung. Karena kami lihat orang-orang Jepang yang ada di kereta tidak satupun yang menenteng-nenteng payungnya. Kembali saya dan teman saya saling melihat dengan agak malu-malu. Kok kita berdua aja yaa yang bawa payung hari ini, kata teman Indonesia tadi. Apa hari ini tidak hujan seperti kemarin yaa? tanya saya. Ternyata benar bahwa sepanjang hari itu tidak setetespun hujan yang mengucur ke bumi tempat kami tinggal. Akhirnya kami menyadari bahwa ternyata kita harus selalu mengupdate ramalan cuaca dari waktu ke waktu. Jadilah sejak saat itu kami selalu melihat ramalan cuaca lewat internet sehingga kejadian dua payung berdua tersebut tidak pernah terjadi lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: