MENGENAL PROFESI APOTEKER ( BAGIAN 4 ) —- Mohon maaf jika apoteker jarang ditemui di apotek

               Seperti yang saya sampaikan pada tulisan sebelumnya bahwa kira-kira sepertiga dari  jumlah apoteker Indonesia menjadi penanggung jawab apotek. Seharusnya dengan porsi yang cukup besar tersebut, masyarakat terutama mereka yang sedang menggunakan obat, cukup mudah untuk bertemu dan berkonsultasi dengan profesi apoteker di apotek. Tapi pada kenyataannya dan sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bahkan di kalangan apoteker sendiri, bahwa mencari apoteker di apotek sama susahnya dengan menemukan jarum di tumpukan jerami. Tentu tidak semua apoteker sulit ditemukan di apotek yang menjadi tanggung jawabnya. Salah satu apotek dimana apotekernya mudah untuk ditemui berdasarkan pengalaman saya yaitu apoteker di apotek Kimia Farma grup. Kebetulan saya sendiri pernah bekarya di grup apotek ini selama kurang lebih tujuh tahun dan di tempat ini apoteker diberikan kewajiban jam kerja layaknya instansi pada umumnya. Barang kali di tempat lain juga sama dengan kimia farma dan ini tentunya menjadi harapan saya sebagai salah seorang apoteker Indonesia.

              Kenapa secara umum sulit untuk berjumpa dengan apoteker di apotek? Ada beberapa alasan menurut hemat saya. Alasan pertama, kebanyakan apotek bukanlah milik si apoteker melainkan milik pemodal yang dalam istilah farmasi disebut PSA ( Pemilik Sarana Apotek ). Dari data yang dipublikasikan oleh situs resmi organisasi apoteker, Jumlah apotek yang dimiliki oleh PSA kira-kira 50% dari jumlah apotek yang ada ( 5.106 dari 10.370 ). Apoteker bisa dibilang sebagai orang yang diberi gaji untuk menjadi penanggung jawab apotek seperti yang disyaratkan oleh peraturan pemerintah. Di sini masalahnya. Konpensasi gaji yang diterima apoteker tersebut sangat tidak mencukupi untuk dijadikan sebagai penunjang biaya hidup keluarga. Jadilah banyak apoteker yang menjadikan posisi sebagai penanggung jawab apotek tersebut sebagai side job atau pekerjaan sampingannya di samping pekerjaan utamanya, misalnya sebagai pegawai di departemen kesehatan, Balai POM, dosen, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kalau di tempat kerja utamanya saja apoteker harus bekerja office hour ( dari jam 8 pagi sampai 4/5 sore ), kapan lagi mereka akan bisa mempraktekkan profesinya di apotek yang menjadi tanggung jawabnya. Belum lagi kalau kondisi tersebut terjadi di kota-kota besar yang sebagian waktu terbuang menghadapi macet di jalan. Sehingga terkadang apoteker yang menjadikan posisi penanggung jawab apotek sebagai side job ini hanya datang ke apoteknya bisa 1 atau 2 kali sebinggu, 1 atau 2 kali sebulan atau frekuensi kedatangan lainnya. Tentu saya pasien atau masyarakat akan susah berkonsultasi dengan profesi apoteker ini.

              Alasan kedua adalah keinginan masyarakat untuk mengetahui pengobatannya yang belum begitu tinggi. Sehingga masyarakat merasa bahwa mereka tidak perlu berkonsultasi dengan profesi apoteker karena menganggap obat adalah bahan yang aman-aman saja untuk digunakan. Saya pribadi pernah punya pengalaman ketika menjadi apoteker pengelola apotek di Bali, beberapa orang Bule datang ke apotek dan menyatakan keinginannya untuk berbicara dengan apoteker berkenaan dengan keluhan kesehatan yang sedang mereka rasakan.

              Sebagai salah satu bagian dari profesi kesehatan, tentunya diharapkan apoteker seyogianya bisa terlibat secara langsung dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat khususnya di bidang kefarmasian. Pasien pengguna obat yang menebus obat di apotek memiliki hak untuk mendapatkan informasi obat dari profesi ini. Semoga keberadaan apoteker ke depan bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat.

2 Tanggapan to “MENGENAL PROFESI APOTEKER ( BAGIAN 4 ) —- Mohon maaf jika apoteker jarang ditemui di apotek”

  1. prabasiwi nur fauziyah Says:

    setuju, apotek tidak boleh buka ato melayani penebusan obat jika tidak ada apoteker di apotek.
    Tapi sepertinya kita juga harus melihat kondisi real di lapangan mengapa apoteker jarang di apotek, saya rasa sebagian besar dikarenakan penghasilan yang kurang mencukupi. Jika kita telusuri lebih dalam maka kita bisa menemukan salah satu penyebabnya adalah banyaknya pos-pos kerja apoteker yang “diserobot” oleh pihak yang tidak berlabel apoteker, bahkan yang tidak memiliki latar belakang kesehatan pun bisa menjual obat di Indonesia dengan nyaman.
    Hal ini membuat apotek belum benar2 bisa meresap ataupun menjadi pilar ke-obatan untuk semua kalangan di Indonesia. Mestinya kita mencoba menetapkan aturan2 yang nyata (G cuma PP, tapi sekalian UU) bahwa pos-pos yang berhubungan dengan obat mesti ditangani oleh apoteker. Nah, apabila apoteker masih kabur dari apotek ketika semua pos obat hanya bisa diatur atau harus ada apoteker didalamnya maka saya setuju klo seandainya apoteker emang harus dicaci untuk hal itu.
    Sekedar info saya juga mahasiswa Farmasi, saya kesal dengan apoteker yg tidak ada di apotek, tapi saya juga tidak bisa menutup mata dengan alasan apoteker terpaksa melakukan hal tersebut.

    • saya sepakat bahwa apoteker yang jarang ngetem di apotek yang menjadi tanggung jawabnya, memiliki alasan kenapa mereka melakukan hal tersebut, yang mungkin salah satunya adalah kompensasi alias gaji yang mereka dapat tidak sebanding. Memang ini bukan masalah yang mudah. Bisa jadi seperti benang kusut yang susah untuk diurai, atau mirip lingkaran setan yang tak berujung. Apoteker jarang datang ke apotek karena Pemilik apoteknya ( PSA ) tidak bisa membayar dengan imbalan yang sepadan, sementara itu PSA juga enggan membayar mahal karena sudah mengerti bagaimana irama kerja dari apoteker umumnya. Ditambah lagi PSA juga tidak kesulitan menemukan apoteker yang bisa dibayar murah. Kalau ada yang murah kenapa pilih yang mahal? Sebuah prinsip yang juga tidak bisa disalahkan.
      Karena pihak yang paling berkepentingan di sini adalah apoteker, maka menurut saya segala sesuatunya harus dimulai dari apoteker tersebut. Tidak mungkin pihak lain yang akan memikirkan nasib apoteker. Di sinilah seharusnya diharapkan peran organisasi apoteker untuk memperjuangkan dibuat dan diberlakukannya aturan atau kebijakan yang berpihak kepada perbaikan nasib profesi apoteker, tentunya tanpa mengesampingkan pihak lain. Dan yang juga tidak kalah pentingnya adalah upaya dari apoteker per pribadi masing-masing. Slogan 3M ( mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil-kecil, Mulai saat ini juga ) terasa tepat untuk dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: