PARADIGMA BARU PRAKTEK KEFARMASIAN

Jumlah obat di pasar meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir, membawa inovasi-inovasi yang nyata dan juga tantangan-tantangan yang serius dalam mengontrol kualitas serta penggunaan obat yang rasional. Baik di negara yang sedang berkembang maupun negara industri, upaya-upaya untuk menyediakan pelayanan kesehatan, termasuk asuhan kefarmasian, menghadapi tantangan-tantangan baru. Tantangan-tantangan ini seperti meningkatnya ongkos pelayanan kesehatan, sumber keuangan yang terbatas, keterbatasan sumber daya manusia di sektor pelayanan kesehatan, sistem kesehatan yang tidak efisien, beban penyakit yang besar, dan perubahan sosial  teknologi, ekonomi dan politik yang dihadapi oleh hampir seluruh Negara. Ketika globalisasi membuat negara semakin dekat, bersama melakukan perdagangan produk dan jasa pelayanan dan pengenalan gelar akademik dan diploma sebagai contoh, telah membawa perubahan yang cepat dalam lingkungan pelayanan kesehatan dan terhadap kompleksitas yang baru akibat peningkatan perjalanan dan migrasi.

Akses terhadap obat dengan kualitas terjamin masih menjadi perhatian seluruh dunia.  Sepertiga populasi penduduk dunia belum mendapatkan akses yang reguler terhadap obat-obat esensial. Bagi banyak orang, obat-obatan yang terjangkau masih menjadi masalah utama. Beban yang lebih berat adalah bagi pasien-pasien di Negara yang sedang berkembang dan ekonomi transisi, dimana 50 – 90% obat dibayar dari kocek pribadi ( out of pocket ). Beban ini terasa jauh lebih berat bagi kaum tak berpunya, yang tidak secara layak di tanggung oleh kebijakan atau oleh asuransi kesehatan. Aspek distribusi logistik sering terlihat seperti gaya/pola farmasis yang tradisional, khususnya pada institusi kesehatan, menggambarkan tantangan yang lain. Lebih jauh, di Negara-negara yang sedang berkembang 10 – 20% obat yang dijadikan sampel gagal memenuhi uji kontrol kualitas.

Sebuah kesepakatan terhadap penjaminan kualitas dan keamanan produk obat untuk melindungi pasien telah ditandatangani bersama oleh FIP  dan Federasi asosiasi perusahan farmasi internasional pada tahun 2000. Tujuan umumnya adalah melindungi kehidupan pasien di seluruh bagian dunia dengan menjamin bahwa seluruh produk obat memiliki kualitas yang baik dan terbukti aman dan berkhasiat. Industri farmasi dan profesi farmasi tersebut juga memahami kebutuhan terhadap suatu regulator dan lingkungan pemasaran yang mendorong investasi dalam obat-obat inovatif baru dan memungkinkan pengenalannya yang tepat waktu dan ketersediaannya bagi pasien di seluruh dunia.

Tantangan utama lainnya adalah memastikan bahwa obat digunakan secara rasional. Ini memerlukan bahwa pasien menerima pengobatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan klinisnya, dalam dosis yang sesuai dengan kebutuhan individunya untuk jangka waktu yang tepat, dan dengan biaya yang terendah untuk mereka dan komunitasnya.

Akan tetapi, penggunaan obat yang rasional masih marupakan pengecualian daripada aturan. Bagi orang-orang yang mendapatkan obat, lebih dari separuh dari peresepan tidak tepat dan lebih dari setengah orang yang terlibat gagal menggunakannya secara benar. Sebagai tambahan, ada peningkatan perhatian terhadap peningkatan jumlah resistensi terhadap antibiotik/antimikroba yang menglobal, suatu masalah kesehatan yang utama. Sebuah laporan terakhir dari WHO menemukan sampai 90% resistensi terhadap antibiotic generasi pertama seperti ampisilin dan kotrimoksazol terhadap shigellosis, sampai 70% resistensi terhadap penisilin untuk pneumonia dan bacterial meningitis, sampai 98% resistensi terhadap penicillin untuk gonorrhoea dan sampai 70% resistensi terhadap panisilin dan cephalosporin terhadap infeksi staphylococcus aureus yang didapat dari rumah sakit.

Pada tahun 2000 dewan FIP mengadopsi a statement of policy of resistance to antimicrobial yang menyediakan suatu daftar rekomendasi bagi pemerintah dan otoritas kesehatan terhadap pengukuran yang tepat yang dibutuhkan untuk melawan resistensi antimikroba. Statement juga mendeklarasikan  bahwa farmasis siap berkolaborasi secara aktif dengan dokter, otoritas regulasi, dan professional kesehatan lainnya dalam upaya melawan  resistensi antimokroba dan berpartisipasi dalam kampanye informasi masyarakat.

Tantangan-tantangan ini yakni akses terhadap obat dengan kualitas terjamin dan penggunaan obat yang rasional, menggarisbawahi pentingnya kebutuhan reformasi sektor kesehatan global. Dengan latar belakang yang berkelanjutan dan perubahan mendasar dalam sistem penyediaan layanan kesehatan, pergeseran paradigma dalam praktek farmasi sedang berlangsung. Intervensi kesehatan masyarakat, asuhan kefarmasian, penggunaan obat yang rasional, dan  manajemen suplai obat yang efektif merupakan komponen kunci  atas keteraksesan, keberlanjutan, sistem perawatan kesehatan yang terjangkau dan merata yang menjamin efektivitas, keselamatan dan kualitas obat-obatan. Jelaslah bahwa apoteker memegang peranan yang penting dalam proses reformasi sektor kesehatan. Untuk melakukan hal itu, peran apoteker perlu didefinisi dan ditata ulang. Apoteker memiliki potensi untuk meningkatkan outcome terapi dan kualitas hidup pasien dalam sumber daya yang tersedia dan harus memposisikan dirinya di garis depan sistem pelayanan kesehatan. Gerakan kea rah asuhan kefarmasian merupakan faktor kritis dalam proses ini. Sementara upaya-upaya untuk mengkomunikasikan informasi yang benar kepada pasien sama pentingnya dengan menyediakan obat itu sendiri, apoteker juga memiliki peranan yang vital dalam perawatan pasien melalui manajemen terapi obat dan penggunaan bersama obat-obat non resep atau terapi alternatif.

Lebih dari 40 tahun yang lalu, peran apoteker telah berubah dari peracik dan penyedia obat menjadi manajer terapi obat ( drug therapy manager ). Ini mencakup  tanggung jawab untuk menjamin bahwa dimanapun obat disediakan dan digunakan, produk berkualitas dipilih, diperoleh, disimpan, didistribusikan, dibagikan dan diberikan sehingga obat tersebut berkonstribusi terhadap kesehatan pasien, bukan membahayakannya. Ruang lingkup praktek kefarmasian saat ini termasuk pelayanan berorientasi pasien dengan segala fungsi kognitif konseling, menyediakan informasi obat dan memantau terapi obat, sebagaimana halnya aspek teknis pelayanan kefarmasian yang termasuk manajemen pengadaan obat. Ini merupakan peranan tambahan dalam mengatur terapi obat bahwa apoteker sekarang dapat memberikan konstribusi yang vital terhadap perawatan pasien

 

Diterjemakhan dari Developing pharmacy practice “A focus on patient care ” edisi tahun 2006 yang dipublikasikan oleh “ World Health Organization ( WHO ) Department of Medicines Policy and Standards Geneva, Switzerland In collaboration with International Pharmaceutical Federation The Hague, The Netherlands

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: