SEANDAINYA UDARA JABODETABEK SEBERSIH dan SESEGAR TOKYO METRO

Sebelumnya tulisan ini berkembang jauh, saya terlebih dulu ingin menjelaskan bahwa apa yang nantinya akan saya sampaikan, sepenuhnya berasal dari penilain pribadi yang mungkin sangat subjektif. Terus terang saya belum sempat mencari data-data akurat yang seyogyanya akan mendukung opini ini. Data yang saya maksudkan seperti tingkat polusi udara yang terjadi baik di Jabodetabek maupun di Tokyo metro.

Barang kali perbandingan yang akan saya sampaikan tidak sepenuhnya seimbang ( apple to apple ) karena ada perbedaan yang cukup mendasar antara kedua wilayah ini. Jabodetabek adalah daerah yang berada di kawasan tropis dimana hanya dikenal dua musim yakni hujan dan panas dengan perbedaan suhu udara yang tidak terlalu bermakna sepanjang tahun. Sementara Tokyo metro merupakan wilayah dengan empat musim dimana perbedaan suhu udara antara satu musim dengan musim lainnya sangat bermakna. Misalnya ketika musim dingin suhu udara lebih sering berada di bawah 10 derajat celcius sementara pada musim panas di atas 30 derajat celcius. Suhu Jabodetabek sering berada pada kisaran di atas 25 derajat celcius. Kondisi suhu udara memberikan dampak yang sangat besar bagi kebiasaan masyarakat.

Ketika udara terasa gerah orang biasanya enggan untuk melakukan aktifitas fisik seperti jalan kaki di luar rumah. Begitu pula saat udara dingin, banyak orang yang lebih suka berdiam diri di rumah sambil berselimut. Udara yang terasa nyaman di tubuh lebih disenangi oleh kebanyakan orang untuk melakukan aktivitas. Alasan-alasan seperti ini mungkin bisa menjadi penyebab tidak samanya kesegaran udara yang ada di Jabodetabek dengan Tokyo metro.

Kalau kepada saya ditanya, lebih segar dan nyaman mana udara di kedua wilayah itu, maka sampai saat ini saya akan menjawab Tokyo Metro. Di Tokyo metro jumlah kendaraan bermotor jauh-jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Jabodetabek. Selama di sini, saya belum pernah menemukan kemacetat sebagaimana yang Jabodetabek. Di sini tidak ada angkot, pengendara sepeda motor sangat jarang dijumpai, kendaraan pribadipun jauh lebih sedikit disbanding Jabodetabek. Walhasil, jalan-jalan raya jadi kelihatan lengang sekalipun di pusat Tokyo. Seperti diketahui bahwa kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber utama polusi udara. Orang Jepang terbiasa berjalan kaki atau bersepeda untuk mencapai suatu tempat yang jaraknya mungkin jauh menurut ukuran kita orang Jabodetabek. Bagi orang Jepang, berjalan kaki dari rumah ke stasiun dengan lama tempuh 10 – 15 menit adalah hal yang lazim dilakukan. Jarak yang lebih jauh bisa ditempuh dengan sepeda. Sehingga jalan-jalan di pagi hari saat jam berangkat kerja atau sore dan malam hari ketika pulang kerja atau sekolah, dipenuhi oleh orang yang berjalan kaki atau bersepeda. Mereka yang menggunakan kendaraan bermotor sangat sedikit.. Cara mereka berjalanpun lebih cepat. Stasiun kereta api menjadi tempat yang paling ramai dikunjungi. Udara terasa begitu segarnya. Suasana yang bertolak belakang kita alami di Jabodetabek. Kita enggan untuk berjalan kaki atau bersepeda. Ojek sering menjadi andalan. Demikian juga dengan angkot. Masyarakat yang merasa mampu memiliki mobil pribadi, lebih senang bepergian dengan kendaraan tersebut. Walhasil jalan raya menjadi demikian padat. Asap kendaraan berlomba untuk meliputi udara Jabodetabek sehingga kesegaran dan kenyamanan udara menjadi hilang.

 

Tinggal di negeri sendiri tentu jauh lebih nikmat dibandingkan di negeri orang. Semoga suatu saat udara di Jabodetabek akan senyaman dan sesegar Tokyo Metro sehingga lebih lengkaplah kenikmatan tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: