BERITA GEMBIRA DARI BU MENKES

Akhirnya datang juga berita yang menggembirakan dari Ibu Menteri Kesehatan kita yang baru. Berita gembira itu berupa disahkannya atau ditetapkannya peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor HK.02.02/Menkes/068/I/2010 pada tanggal 14 Januari 2010 lalu. Permenkes tersebut berisi tentang kewajiban menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah yakni rumah sakit pemerintah baik milik pemerintah daerah ( RSUD ) maupun pusat ( RSUP ) dan puskesmas. Rumah sakit yang dimiliki instansi pemeritah seperti RSPAD, RSAL, RSPOLRI dan lain sebagainya tentunya juga termasuk dalam kategori rumah sakit yang tercakup dalam peraturan ini.

Ditetapkannya peraturan ini tentu memberikan angin segar bagi konsumen obat yakni pasien. Dikatakan angin segar karena kita ketahui bahwa harga obat di Indonesia tergolong mahal. Salah satu penyebab mahalnya harga obat ini adalah karena lebih dari 90% bahan baku obat yang diproduksi di Indonesia merupakan bahan impor yang tentunya ongkos akan dibebankan pada konsumen obat. Faktor lain yang turut menyebabkan tingginya harga obat yaitu persaingan yang kurang sehat antara produsen obat dalam memasarkan obatnya. Produsen harus mengeluarkan biaya ekstra sebagai biaya promosi kepada pihak-pihak yang terkait dengan obat. Biaya promosi ini tentu saja akan menjadi komponen biaya produksi dari obat yang nantinya akan diperhitungkan menjadi harga jual obat yang harus dibayar oleh konsumen. Biaya promosi ini menjadi penting bagi produsen mengingat persaingan yang sangat ketat antara satu produsen dengan produsen lainnya. Di Indonesia sepertinya belum ada aturan yang membatasi jumlah produk obat generik bermerek yang boleh beredar. Sebagai gambaran obat generik amoksisilin memiliki lebih dari 10 produk generik bermerek yang tentunya membuat masing-masing produsen akan melakukan upaya agar produknya yang bisa menguasai pasar. Persaingan adalah sesuatu yang lumrah tetapi harus dibatasi oleh etika.

Tingginya biaya yang dikeluarkan dari pemakaian  obat ini juga menjadi catatan bagi organisasi kesehatan dunia WHO. Organisasi ini menyatakan bahwa biaya obat memberikan konstribusi yang besar terhadap total biaya kesehatan. WHO juga memaparkan bahwa di negara-negara maju proporsi anggaran yang digunakan untuk pembiayaan obat berkisar antara 10 sampai 20% terhadap budget kesehatan nasional sedangkan pada negara yang sedang berkembang proporsi ini menjadi dua kali lipatnya yakni antara 20 – 40%. Salah satu penyebab tingginya angka ini dikatakan karena pemakaian obat yang tidak rasional.

Kewajiban menggunakan obat generik pada pusat-pusat pelayanan kesehatan milik pemerintah dipastikan dapat menekan biaya kesehatan. Harga obat generik dibandingkan dengan obat generik bermerek ( yang oleh masyarakat awam dikenal dengan obat paten ) bisa mencapai seperlima atau ada yang sampai sepersepuluhnya. Salah satu contohnya adalah amoksisilin. Harga amoksisilin generik per stripnya berkisar antara empat ribu sampai lima ribu rupiah. Tapi obat generik bermerek dengan kandungan amoksisilin dengan dosis yang persis sama bisa mencapai 20 atau 30 ribuan. Artinya apabila seorang pasien yang selama ini selalu diresepkan obat amoksisilin generik bermerek ( paten ) lalu sekarang obatnya diganti dengan amoksisilin generik sesuai dengan ketentuan permenkes tersebut, maka pasien ini dapat menghemat biaya pembelian obatnya antara 75 sampai 83%. Nilai penghematan yang sangat signifikan.

Permasalah yang masih dihadapi oleh dunia kesehatan kita yakni belum sempurnanya informasi yang diterima oleh konsumen obat tentang obat generik. Masih banyak masyarakat yang belum memahami apa itu obat generik. Sebagian dari mereka masih belum yakin dengan khasiat yang dimiliki oleh obat generik. Pemerintah dalam hal ini sebetulnya telah melakukan upaya-upaya untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang obat generik melalui info layanan masyarakat seperti lewat media massa cetak dan elektronik. Barang kali informasi tersebut belum menyentuh semua lapisan masyarakat. Sehingga upaya seperti ini penting untuk ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya.

Secara singkat yang dimaksud dengan obat generik adalah obat yang namanya ditulis sesuai dengan nama kandungan zat aktif atau bahan obatnya. Sedangkan obat generik bermerek, namanya ditentukan sesuai dengan keinginan dari produsennya. Sehingga seharusnya antara amoksisilin ( generik ) dan generik bermerek yang mengandung dosis yang sama seharusnya memiliki khasiat yang sama. Kenapa harus sama? Karena agar satu obat dapat dipasarkan ke masyarakat, ia harus melalui proses pemeriksaan dan perizinan yang ketat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan ( BPOM ) sehingga badan pemerintah ini memegang peran kunci terhadap boleh tidaknya suatu produk obat beredar di masyarakat. Konsumen harusnya yakin bahwa obat generik  memiliki khasiat yang sama dengan obat yang selama ini mereka kenal dengan obat paten ( obat generik bermerek ).

Salah satu pasal dalam permenkes tersebut juga memberikan kewenangan bagi pasien untuk memilih obat generik apabila dalam resepnya tertulis obat paten tanpa harus meminta persetujuan dokter. Ketika pasien ingin membeli obat di instalsi farmasi atau apotek misalnya, ada baiknya apabila dia menanyakan kepada apoteker atau asisten apoteker tentang ada tidaknya obat generik untuk resep tersebut. Apoteker diberikan kewenangan untuk mengganti produk bermerek dengan generiknya dengan persetujuan salah satu dari dokter penulis resep atau pasien. Jadi pasien memiliki hak untuk memilih obatnya apakah generik bermerek atau generik.

Keluarnya permenkes ini merupakan satu langkah penting bagi dunia kesehatan. Tapi yang lebih penting lagi adalah upaya pengontrolan terhadap pelaksanaan peraturan ini di lapangan. Karena aturan untuk penggunaan obat generik di pusat-pusat layanan pemerintah ini pernah ada beberapa waktu yang lalu tapi implementasinya di lapangan tidak memuaskan. Aturan ini hendaknya menjadi perhatian semua pihak, baik pemerintah, pengelola pusat layanan kesehatan pemerintah, lembaga konsumen Indonesia, profesi kesehatan dan tentunya pasien sendiri sebagai pihak yang paling berkepentingan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: