PAK ANDI DAN SEKOLAH ANAKNYA

Pak Andi yang sudah beberapa bulan ini dan untuk beberapa bulan ke depan mendapat tugas dari kantor di luar kota Jakarta dengan berat hati tidak membawa serta keluarganya. Ada beberapa alasan kenapa istri dan anak-anaknya tidak turut serta. Pertama tugasnya di salah satu kota di luar Jakarta tersebut tidak akan berlangsung lama sehingga dirasa tanggung untuk memboyong keluarga. Toh beberapa bulan lagi perusahaan akan memindahkannya kembali ke Jakarta. Begitu janji pak direktur ketika memberikan tugas tersebut kepada pak Andi beberapa bulan lalu. Alasan kedua adalah Bu Andi saat ini juga bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Tuntutan kebutuhan hidup yang semakin tinggi di Jakarta sebagai salah satu kota termahal di Indonesia secara tidak langsung memaksa pasangan ini untuk bersama-sama mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga agar bisa hidup layak di ibukota.

 

Tadi malam pak Andi mendapat telepon dari istrinya yang mau mendiskusikan tentang pendidkan anak tertuanya. Anak pertama Pak Andi dan bu Andi saat ini berumur 5,5 tahun. Usia yang menurut pasangan ini belum cukup untuk dimasukkan ke sekolah dasar. Mau disekolahkan di Taman kanak-kanak sesuai umur rasanya tidak mungkin, sebab sejak usia 2,5 tahun anak pertama mereka ini sudah disekolahkan di play group dan dua tahun berikutnya di taman kanak-kanak. Pasangan ini cukup bingung untuk memilih pendidikan jenis apa yang pas bagi anaknya tersebut. Mereka sepakat untuk tidak memaksakan anaknya masuk SD walaupun ada beberapa orang yang menyarankan hal itu. Di sisi lain pasangan inipun tidak ingin waktu satu tahun ke depan anak mereka tidak memiliki kegiatan yang bisa mengasah otaknya.

 

Pak Andi berpendapat agar satu tahun ini anak mereka diikutkan dalam kegiatan-kegiatan yang berbau seni dan keterampilan. Apakah itu les menari, menggambar, olahraga dan sebagainya. Tentu saja kegiatan yang bernuansa keagamaan tidak boleh tinggal. Bu Andipun punya pendapat yang serupa. Akan tetapi pasangan ini menghadapi beberapa kendala. Kendala pertama yaitu tidak mudah menemukan tempat-tempat pelatihan keterampilan seperti yang mereka inginkan tadi di sekitar kediaman mereka. Memilih tempat yang jauh tentu saja akan menyebabkan ketidaknyamanan bagi anak mereka yang masih terbilang kecil tersebut. Usia dimana kegiatan-kegiatan yang diikutinya sebaiknya tidak berada terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Masalah lain yakni dengan posisi bu Andi yang juga bekerja setiap harinya, menyebabkan mereka kebingungan untuk mencari siapa yang akan mengantar jemput anak mereka tersebut pada setiap kegiatan yang diikutinya.

 

Malam itu pak andi jadi merenung. Seandainya penghasilan yang dia dapat cukup untuk memutar roda kehidupan keluarga, tentunya istrinya tidak perlu turut bekerja menambah penghasilan keluarga. Saat ini tentu kebingungan mereka akan jauh berkurang karena Bu Andi akan punya waktu yang leluasa untuk mendampingi anak-anak mereka dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Bu Andi tentu bisa setiap hari menemani anak pertamanya pergi ke tempat belajar mengaji, les menari, kursus renang ataupun les bahasa Inggris. Tentunya anak-anak mereka akan lebih lama merasakan kebersamaan dengan ibu mereka setiap harinya dibandingkan saat ini. Pak Andi juga berfikir seandainya pusat-pusat kegiatan anak yang bermutu dengan harga terjangkau mudah ditemui di setiap kawasan Jakarta, tentunya mereka tidak akan bingung mencari tempat pendidikan yang tepat bagi buah hati tercinta mereka. Semoga Pak Andi dan Bu Andi segera bisa menemukan jalankeluar bagi masa depan anak-anak mereka yang cerah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: