SISTEM KERETA API JEPANG YANG CANGGIH

Seperti yang saya kemukakan pada tulisan sebelumnya, selama dua hari dalam liburan kemarin saya isi dengan menjelajahi Tokyo dengan memanfaatkan tiket hemat yang ditawarkan oleh salah satu perusahaan pengelola kereta api terbesar di Jepang. Dengan tiket seharga 1000 yen, saya mengunjungi beberapa lokasi baik yang sebelumnya telah pernah saya kunjungi maupun yang baru pertama kalinya. Selama di dalam kereta api saya tersadar bahwa hampir seharian saya menyusuri perut bumi Tokyo. Yaa jalur kereta api tersebut mayoritas berada di bawah permukaan tanah. Kekaguman akan kecanggihan sistem perkeretaapian Jepang sungguh mewarnai fikiran saya. Entah berapa puluh meter tanah yang digali untuk membuat jalur kereta bawah tanah yang begitu kompleks ini.

 

Kemegahan stasiun bawah tanah juga membuat saya harus mengangkat topi akan kemajuan transportasi kereta api Jepang. Kalau selama ini saya, di dalam perjalanan rutin dari rumah menuju kampus ataupun sebaliknya, kereta api yang saya tumpangi hanya melintas di atas permukaan tanah sehingga stasiunnya pun berada di permukaan tanah, maka berbeda dengan dua hari kemarin, pada umumnya stasiun berada di bawah permukaan tanah. Ukuran stasiun bervariasi. Tetapi secara umum jauh lebih besar dan kompleks dibandingkan dengan ukuran stasiun di atas permukaan tanah. Dari salah satu lift yang ada di stasiun saya ketahui bahwa saya saat itu sedang berada di basement 6, itu artinya untuk mencapai permukaan saya harus melewati enam lantai. Sungguh luar biasa.

 

Satu stasiun bisa menjadi tempat transit 2 sampai 5 jalur kereta api. Jarak antara satu jalur dengan jalur lainnya bervariasi mulai dari puluhan sampai ratusan meter. Jarak terjauh yang sudah saya temukan yakni sampai 5 ratusan meter. Dalam dua hari kemarin entah sudah berapa kilo meter jarak yang saya tempuh dengan berjalan kaki di stasiun kereta api. Belum lagi dengan jarak yang ditempuh saat menuju tempat wisata dari stasiun. Salah satu hal yang harus dipersiapkan ketika ingin tinggal atau sekedar berwisata  di Jepang adalah kesiapan untuk melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, karena di sini tidak ada angkot, bajaj maupun ojek. Taksi ada tapi harganya sangat mahal ( menurut ukuran saya ).

 

Ketika pertama kali sampai di Tokyo dan waktu itu saya dan teman naik bis dari bandara Narita, saya sempat berfikir ( ternyata teman saya juga memikirkan hal yang sama ) “ kok Tokyo terlihat sepi ? sepi dari kendaraan bermotor seperti mobil, motor maupun dari orang yang berlalu lalang “. Dari perjalanan dua hari kemarin saya menemukan jawaban bahwa ternyata kehidupan masyarakat Tokyo tidak hanya ada di atas permukaan tanah saja, tetapi juga di bawah permukaan tanah. Entah berapa juta orang yang sedang berada di bawah tanah ketika misalnya pada suatu siang kita sedang duduk di halte bis. Bisa jadi jumlah orang yang di di bawah tanah jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah mereka yang ada di atas permukaan tanah pada suatu waktu.

 

Hampir semua stasiun kereta api berpenampilan bersih dan rapih ( ada juga yang agak kurang rapih ). Penerangannya sangat baik. Saya sempat berfikir apa yang akan terjadi jika suatu ketika listrik padam seperti yang pernah saya alami ketika menginap di salah satu hotel bintang tiga di Padang atau saat berada di Jakarta dulu. Saya juga bertanya-tanya dalam hati bagaimana pengaturan sirkulasi udara di stasiun yang begitu besarnya yang berada jauh di bawah tanah. Satu lagi kehebatan Jepang yang harus saya saluti. Sistem pembelian tiket ,pintu masuk dan keluar stasiun dikendalikan dengan mesin. Namun demikian petugas stasiun selalu ada untuk memberikan bantuan ketika penumpang menemukan masalah terutama orang asing yang belum familiar dengan sistem seperti saya.

 

Jadwal keberangkatan kereta api terpampang di beberapa lokasi stasiun. Jadwal yang sangat jarang meleset. Melesetnya jadwal biasanya terjadi karena ada peristiwa yang luar biasa seperti cuaca buruk atau pernah ada orang bunuh diri di jalur kereta api. Ketepatan jadwal ini tentu saja memberi kepastian bagi siapa saja yang menggunakan sarana transportasi utama Jepang ini. Soal kenyamanan gerbong? Dijamin kita tidak kan menemukan jok kursi yang sobek atau bolong atau sampah yang bergeletakan di lantai. Suasana gerbong begitu bersih dan nyaman. Soal dapat tempat duduk? Ini masalah lain. Kita jangan terlalu berharap untuk bisa duduk jika kita naik di stasiun yang berada di pertengahan jalur. Hal ini disebabkan begitu banyaknya warga yang memanfaatkan kereta ini terutama pada saat jam-jam berangkat atau pulang kantor. Jika kita ingin bisa duduk maka sebaiknya kita naik pada stasiun pertama atau ketika jam sibuk telah usai. Orang Jepang sudah sangat terbiasa berdiri di kereta, bahkan tidak jarang saya temui penumpang kereta yang tidak mau duduk walau ada kursi yang kosong.

4 Tanggapan to “SISTEM KERETA API JEPANG YANG CANGGIH”

  1. kereeen dan bersih kereta di jepang *.*

  2. apakah bisa ikut belajar di sana,
    saya dari PT.LEN Bandung-Indonesia
    ingin mempelajari ilmu kereta disana ..
    Trims,,
    Bagaimana caranya:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: