KENAPA OBAT DI INDONESIA MAHAL?

              Tujuh tahun bekerja di ujung tombak pelayanan farmasi/obat ke pasien yakni di apotek, membuat saya cukup punya alasan untuk mengatakan bahwa harga obat di Indonesia mahal. Ketika berada pada posisi pihak yang menjual obat, tentunya wajar kalau ada perasaan senang ketika mendapatkan pembeli obat dengan nilai nominal/ harga yang tinggi atau mahal. Nilai ini jelas saja akan meningkatkan omset penjualan apotek dan otomatis menambah keuntungan yang didapat. Sering pasien harus merogoh koceknya ratusan ribu rupiah untuk sekali penebusan resepnya. Tak jarang pula ada pasien yang harus membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan obatnya seperti pasien-pasien dengan penyakit kronis, komplikasi atau penyakit khusus. Perasaan senang tersebut seketika bisa berupah menjadi rasa kasihan, prihatin,simpati manakala kita mencoba menempatkan diri kita ada pada posisi pihak yang membeli/membutuhkan obat. Maka tidak heran kalau masih banyak orang yang rela menahan rasa sakitnya karena ketidakmampuannya dalam membeli obat. Ditambah lagi sistem asuransi kesehatan nasional yang belum berjalan dengan baik.

              Ada beberapa hal yang menyebabkan mahalnya harga obat tersebut. Pertama, bahan baku obat yang masih sangat tergantung pada impor. Lebih dari 90% bahan baku obat di negara kita harus diimpor dari negara lain. Bahkan waktu saya masih kuliah ada yang bilang kalau komponen obat yang berasal dari dalam negeri hanyalah air ( pernyataan yang mungkin berlebihan ). Ketergantungan bahan baku terhadap impor ini tentunya akan menyebabkan harga obat menjadi lebih mahal. Di samping bahan baku, di negeri kita juga banyak beredar obat paten ( orisinil ). Obat jenis ini tentunya berasal dari negara yang sudah maju. Harga tersebut jika dinilai dengan mata uang rupiah tentunya akan terasa mahal. Obat orisinil yang beredar tidak hanya berupa obat orisinil yang belum habis masa petennya ( belum ada produk lain dengan kandungan sama ), tetapi juga yang telah habis masa patennya ( produk lain dengan kandungan sama telah diproduksi oleh perusahaan lain ).

              Penyebab kedua adalah obat adalah produk yang masih dikenakan pajak pertambahan nilai (ppn). Pajak yang dikenakan terhadap obat yakni 10%. Itu artinya ketika pasien membeli obat seharga 11 ribu rupiah, maka seribu rupiahnya merupakan pajak yang harus disetorkan oleh pihak penjual obat ke pemerintah. Dengan kata lain ketika seorang yang sedang sakit ingin mendapatkan kesembuhannya dengan obat, maka ia harus membayar pajak terlebih dahulu “ MAU SEMBUH!!  BAYAR PAJAK !!!.

              Persaingan antara produsen obat merupakan penyebab selanjutnya terhadap mahalnya harga obat. Tidak adanya aturan yang membatasi produsen untuk memproduksi obat sejenis ( ketika hak paten suatu obat telah habis ), membuat banyak produsen memproduksi obat yang permintaannya tinggi. Wajar memang dari sisi bisnis. Tapi dampaknya adalah terjadi persaingan yang ketat. Masing-masing ingin berupaya bagaimana caranya supaya obat mereka laku. Salah satu cara yang biasa ditempuh adalah melalui promosi. Ada beberapa pilihan promosi yakni melalui iklan di media massa ( untuk obat yang tidak memerlukan resep dokter ), atau melalui promosi langsung ke dokter ( untuk obat resep ). Kegiatan promosi identik dengan biaya. Besarnya biaya yang dianggarkan untuk kegiatan promosi ini akan diperhitungkan sebagai komponen biaya pokok obat yang tentunya akan meningkatkan harga jual obat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: