RAMAHNYA PENGENDARA MOBIL DI JEPANG

Sebetulnya hal ini telah lama ingin saya tuangkan ke dalam sebuah tulisan, akan tetapi baru kali ini kesampaian. Percakapan saya dengan seorang teman yang belum genap dua minggu berada di Jepang bebera hari yang lalu, membuat keinginan saya untuk berbagi cerita ini menjadi semakin besar. Dalam obrolan tersebut teman saya sempat menyampaikan kekagumannya terhadap beberapa peristiwa yang ia saksikan selama beberapa hari di Jepang. Kekaguman terhadap lingkungan dan sikap masyarakat Jepang. Salah satu yang ia sampaikan kepada saya ketika itu adalah pengalamannya saat bersepeda ketika hendak menyeberang jalan. Sebuah mobil juga hendak melintas di jalan yang hendak ia sebrangi tersebut. Karena ada keraguan untuk langsung menyeberang teman saya tadi memilih untuk berhenti dengan maksud ingin mempersilahkan pengendara mobil untuk melintas terlebih dahulu. Tetapi yang terjadi adalah si pengendara mobil juga menghentikan mobilnya dan saat itu teman saya melihat pengendara mobil itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda mempersilahkan teman saya untuk menyeberang terlebih dahulu. Sepertinya peristiwa hari itu sangat membekas di benak teman saya tadi.

 

Apa yang saya dengar dari cerita teman itu kembali mengingatkan saya akan peristiwa serupa yang telah beberapa kali saya alami. Kejadian itu terjadi baik ketika saya hendak menyebarang jalan dengan berjalan kaki atau saat saya menggunakan sepeda. Apa yang saya alami tersebut sungguh membuat hati saya tersentuh dan semakin terkagum-kagum dengan banyak hal yang ada di negeri chibi maruko chan ( tokoh kartun anak Jepang ). Di Jepang ini lah saya menyaksikan betapa ramahnya orang-orang Jepang tersebut. Kejadian yang serupa sepertinya jarang saya temui ketika berada di Jakarta dulu dimana kebanyakan ( mungkin ada yang tidak )  orang yang bermobil enggan memberi senyum kepada orang yang tidak bermobil. Atau bahkan tidak jarang mereka membuang muka sebagai tanda tidak senang ketika jalan kendaraannya sedikit terganggu dengan adanya orang yang hendak menyeberang.

 

Dalam asumsi saya, Orang yang memiliki mobil pribadi di Jepang adalah orang yang memiliki tingkat kehidupan di atas rata-rata mengingat untuk bisa memiliki jenis kendaraan tersebut dibutuhkan uang ekstra seperti untuk biaya bahan bakar kendaraan, biaya parker yang menurut infrmasi sangat mahal dan lain sebagainya. Di tengah kecukupan materi yang mereka punyai, mereka tetap saja mampu menghargai orang yang bisa jadi secara ekonomi berada di bawah mereka. Mereka tidak segan untuk menghentikan kendaraannya sejenak, memberi senyum, menundukkan kepala atau menggerakkan tangannya sebagai isyarat mereka memberi kesempatan orang yang tidak mengunakan mobil untuk menyeberang terlebih dahulu. Sungguh sikap yang menurut saya sangat-sangat patut ditiru oleh para pemilik mobil pribadi di negeri kita. Hendaknya kekayaan tidak membuat kita menjadi sombong dan tinggi hati melainkan tetap membuat kita bersikap rendah hati dan dapat menghargai orang-orang yang belum memiliki nasib yang sebaik kita. Banyak hal yang perlu kita pelajari dari sikap dan prilaku yang ditunjukkan oleh orang Jepang terlepas dari hal-hal yang lain yang mungkin tidak sesuai untuk ditiru. Tidak salah kalau kita mencontoh segala kebaikan yang dimiliki oleh orang atau bangsa lain. Kebaikan yang tentunya akan membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi kita semua sebagaimana masyarakat Jepang yang telah terlebih dulu memperoleh kesejahteraan hidup di dunia. Kesejahteraan yang pastinya didapat dari berbagai perilaku positif warga dan aparatur pemerintahannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: