PENGALAMAN BEROBAT KE DOKTER PRAKTEK DI JEPANG

              Kemarin sore saya pergi ke sebuah klinik dokter tidak jauh dari tempat tinggal saya. Adapun tujuan saya ke sana adalah untuk menemani salah seorang teman yang kebetulan sedang sakit. Dugaan kami waktu itu adalah alergi yang disebabkan cuaca dingin. Dugaan ini memang mendasar karena sebelum musim dingin tiba, gejala penyakit teman saya tersebut tidak muncul. Rasa gatal dan bentol-bentol kecil dialami oleh teman tadi.

              Sesampainya di klinik ,kamipun mendaftarkan diri dan karena kunjungan hari itu merupakan kali kedua bagi teman saya ke klinik tersebut, maka teman tadi lalu memberikan semacam kartu berobat yang dikeluarkan oleh klinik itu. Ketika datang, salah seorang petugas di counter menanyakan tentang keluhan yang dialami teman saya. Dia sempat bertanya apakah teman saya merasa pusing. Karena sudah faham dengan kondisi teman tadi, maka saya langsung saja memberi tahu petugas tadi jika ia kena alergi. Petugas tadi langsung faham, kemudian meminta teman saya untuk menyerahakan kartu asuransi untuk selanjutnya meminta kami untuk menunggu giliran.

              Kurang lebih 30 menit menunggu akhirnya tiba giliran teman saya untuk diperiksa. Saya ikut ke ruang dokter bersama teman saya. Dokter melakukan interview sebentar kemudian dilanjutkan pemeriksaan badan. Dugaan alergi kami ternyata benar. Dokter menanyakan kepada kami apakah mau diberi obat gosok (krim). Waktu itu saya berfikir karena gejala alergi yang meluas di sekujur tubuh rasanya krim kurang efektif. Maka saat itu saya katakan ke dokter bagaimana kalau obat minum saja. Sepertinya dokter tersebut setuju. Akhirnya sang dokter menuliskan obat minum di komputer yang ada di depannya. Memang selama melakukan pemeriksaan, dokter langsung melakukan pengimputan data ke dalam komputer yang on line dengan bagian counter depan untuk pencetakan, seperti data pasien dan resep. Pada awalnya dokter tadi hendak meresepkan obat alergi untuk keperluan dua minggu. Melihat itu saya meminta pada dokter tersebut bagaimana kalau obatnya diresepkan untuk keperluan satu bulan. Ada dua hal yang membuat saya menyarankan itu. Pertama penyakit alergi akan terus berulang sehingga kalau setiap dua minggu harus datang ke dokter tentunya akan memerlukan biaya lebih. Kedua di Jepang tidak bisa membeli obat daftar G tanpa resep dokter. Akhirnya dokter tersebut memenuhi permintaan kami dan meresepkan obat alergi untuk satu bulan.

              Selesai pemeriksaan, kami pergi ke counter depan untuk mengambil resep dan melakukan pembayaran. Teman saya saat itu harus membayar sebesar 1.210 yen. Dari kwitansi pembayaran saya ketahui bahwa nilai itu adalah 30% dari total kwitansi. Memang di Jepang jika kita ikut asuransi pemerintah, maka ketika melakukan pemeriksaan ke dokter dan saat menebus obat di apotek, kita hanya membayar 30 persen saja, yang 70% nya ditanggung oleh asuransi. Keikutsertaan dalam asuransi ini tentu saja jadi sangat meringankan karena bisa dibayangkan berapa biaya periksa dokter yang harus dibayar jika 100% biayanya harus dibayarkan dari kantung pribadi pasien. Untuk penebusan obat di apotek, kemarin teman saya harus membayar sebesar 1.000 yen untuk separuh obat yang ditulis diresepnya ( keperluan 2 minggu ).

             

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: