OKNUM PENEGAK HUKUM YANG SEMAKIN BERANI ATAU NEKAT?

OKNUM PENEGAK HUKUM YANG SEMAKIN BERANI ATAU NEKAT?

              Miris rasanya menyaksikan berita tentang Gayus Tambunan yang akhir-akhir ini sangat sering diinformasikan oleh media massa. Miris karena ternyata penjara sepertinya sudah bukan lagi merupakan tempat yang menakutkan bagi orang yang melakukan kejahatan. Hal ini terbukti dengan apa yang dilakukan oleh salah seorang anak bangsa yang paling terkenal akhir-akhir ini, siapa lagi kalau bukan Gayus Tambunan, PNS dirjen pajak yang memiliki harta kekayaan yang begitu mencengangkan.

              Keberadaan Gayus di Bali yeng tertangkap kamera salah serang kru media massa, terang saja sontak membuat semua orang terperanjak. Kok bisa yaa, orang yang begitu menjadi perhatian banyak orang dan diketahui merupakan salah seorang tersangka korupsi yang sedang ditahan, bisa duduk manis menyaksikan pertandingan tennis kelas internasional. Istilah yang semula sering digunakan dengan seorang yang mirip Gayus, belakangan kehilangan kata miripnya setelah yang pelaku utama mengakui kepada khalayak bahwa orang yang di Bali itu adalah dia ( Gayus ) adanya.

              Siapapun pasti akan bertanya-tanya termasuk saya, kok bisanya peristiwa ini terjadi? Apakah Gayus punya kesaktian seperti dalam kisah-kisah dahulu dimana orang bisa berpindah tempat dalam sekejap mata? Tentunya tidak karena ternyata terungkap bahwa keberadaan Gayus di pulah Dewata ternyata karena adanya campur tangan orang dalam yang tak lain adalam para petugas/ aparat negara yang bertugas di penjara. Istilah yang sering digunakan bagi orang-orang atau petugas yang melakukan pelanggaran ini adalah oknum. Ya oknum aparat penjaga lapas BRIMOB depok.

              Sebagai orang yang awam dalam hal hukum dan dunia perpenjaraan, terus terang saya jadi begitu penasaran dan begitu banyak pertanyaan dan dugaan yang muncul di benak fikiran. Ketika kecil saya begitu takut membayangkan apa yang disebut penjara. Sebuah tempat yang membatasi kebebasan seseorang sebagai ganjaran atas kesalahan yang dilakukan oleh orang tersebut yang berkaitan dengan hukum. Ketahuan maling ayam masuk penjara. Ketahuan membunuh atau menyakiti orang lain masuk penjara. Ketahuan korupsi masuk penjara. Tetapi lagi-lagi terungkapnya kasus Gayus seolah-olah mementahkan anggapan bahwa penjara bukanlah sesuatu yang kini menakutkan.

              Keterlibatan oknum aparat merupakan sisi lain. Di zaman yang katanya reformasi dimana peran media masa sudah begitu bebas dalam menyampaikan informasinya, jauh dari kungkungan penguasa seperti era terdahulu, masih ada aparat yang berani coba-coba bermain dengan pelanggaran. Banyak  kasus-kasus sebelumnya yang juga melibatkan oknum aparat penegak hukum yang begitu gencar diberitakan media masa dan mendapat perhatian publik sedemikian besar. Sebut saja kasus cicak dan buaya, kasus antasari, dan sebagainya. Kenapa kok oknum lapas Brimob masih berani melakukan pelanggaran terhadap hukum dengan membantu Gayus yang sama-sama diketahui menjadi salah satu pusat perhatian publik. Beranikah mereka atau lebih pantas disebut nekat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: