BIJAK MEMILIH OBAT

              Tidak diragukan lagi bahwa selama hidup kita pasti bersentuhan dengan yang namanya obat. Obat sudah menjadi salah satu bagian terpenting atas keberlangsungan hidup kita. Masa kanak-kanak dan usia senja adalah masa-masa dimana frekuensi penggunaan obat menjadi tinggi. Daya tahan tubuh di masa kanak-kanak yang belum matang, menyebabkan penyakit sering menyerang sementera pertahanan tubuh yang makin lama makin berkurang akibat kemunduran fungsi organ tubuh pada masa usia senja juga memberikan akibat yang sama. Walhasil kebutuhan akan obat menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindarkan. Di sinilah persoalan itu dimulai. Harga obat yang tidak bisa dibilang murah atau bisa dikatakan mahal ( tergantung obat mana yang dipilih ) sering membuat konsumen obat menjerit. Menjerit karena dihadapkan pada pilihan yang sulit. Kalau obat tidak ditebus maka harapan sembuh dari sakit menjadi kecil, sementara isi kantong menjadi kendala untuk membelinya. Sehingga tidak sedikit masyarakat yang lebih memilih memelihara sakitnya ( menahan ) karena ketidakmampuan untuk membeli obat.

              Pemerintah sebenarnya telah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi ketidakterjangkauan obat oleh masyarakat. Salah satu dari upaya tersebut adalah dengan menggalakkan penggunaan obat generik. Harga obat generik yang diatur oleh pemerintah diharapkan bisa memudahkan akses masyarakat terhadap obat terutama untuk kalangan menengah ke bawah. Ini bukan berarti obat generik tidak bisa bermanfaat untuk kelompok menengah atas karena pada dasarnya respon tubuh terhadap obat  tidak mengenal status ekonomi seseorang. Memang sampai saat ini mungkin masih ada anggapan yang berkembang di masyarakat  yang menganggap bahwa obat generik tidak seampuh obat paten. Idealnya anggapan ini tidak benar karena sesuai dengan jaminan yang diberikan pemerintah yang mengatakan bahwa obat generik sama khasiatnya dengan obat non generik. Apabila dalam prakteknya misalnya ternyata jaminan ini tidak benar, maka masyarakat tentunya berhak meminta tanggung jawa kepada pemerintah selaku pihak yang memberikan izin terhadap beredarnya obat di tengah masyarakat.

              Pengguna atau pemakai obat atau pasien dalam hal ini memiliki peranan yang sangat penting dalam memilih obat yang akan digunakannya. Tentu hal ini tidak sama dengan seorang pasien mendikte dokter dalam menentukan pilihan obat atas penyakitnya. Penetapan obat yang tentu harus didasarkan kepada hasil diagnose penyakit oleh dokter. Umpanya dokter menetapkan amlodipin untuk mengatasi keadaan hipertensi seorang pasien. Pilihan terhadap amlodipin ini adalah sepenuhnya kewenangan dokter berdasarkan keilmuan yang dipahaminya. Lalu dimana peran seorang pasien? Pasien berperan dalam hal menentukan produk mana yang akan dia gunakan. Seperti kita ketahui bahwa amlodipin adalah nama zat berkhasiat atau nama obat itu sendiri. Amlodipin dijual ke konsumen dalam beberapa merek dagang, mulai dari orisinil, generik bermerek dan generik. Banyak pabrik obat yang memproduksi obat yang mengandung amlodipin ini dengan nama merek yang mereka sukai. Banyaknya pabrik yang tertarik untuk memproduksi obat itu tentulah karena perhitungan bisnis, bahwa obat ini akan banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Kita ketahui bahwa penyakit hipertensi adalah penyakit yang banyak penderitanya dan merupakan penyakit yang membutuhkan pengobatan yang sangat lama atau bahkan seumur hidup. Ingat yang bekerja dalam menyembuhkan penyakit adalah zat yang bernama amlodipin tadi, bukan merek A atau B atupun C. Selagi yang dikandung oleh obat tersebut adalah amlodipin, maka seyogiyanya obat tersebut akan berkhasiat sama.

              Bagaimana pasien berperan? Pertama bisa dengan meminta ke dokter yang memeriksa agar pada resep dituliskan obat generik saja. Kedua jika dokter terlanjur menuliskan resep dengan produk bermerek, maka pasien bisa menanyakan di apotek tempat resep tersebut ditebus, apakah obat bermerek yang ditulis di resep tersebut ada produk generiknya. Atau jika produk generiknya tidak ada, alternative lain adalah menanyakan apakah ada obat dengan kandungan yang sama tetapi dengan merek berbeda yang harganya lebih murah. Ingat bahwa di dalam peraturan pemerintah tentang kefarmasian, pasien memiliki hak untuk menentukan pilihan obatnya ( sekali lagi memilih jenis produk baik merek atau generiknya ).

              Hal yang yang sangat penting diketahui oleh pasien adalah bahwa alternatif yang lebih murah untuk memperoleh kesembuhan dan kesehatan sudah tersedia. Sekarang tinggal pasien yang menentukan. Apakah mau mendapatkan kesehatan itu dengan harga yang lebih mahal sementara hal serupa sebetulnya bisa diperoleh dengan biaya yang lebih murah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: