PAK FAUZI BOWO, PLEASE JANGAN PAJEKI ( TARIK PAJAK ) WARTEG

              Kira-kira dua hari yang lalu saya menonton sebuah acara berita di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia melalui internet. Yaa, meskipun saat ini saya berada jauh di negeri orang  tetapi semangat untuk mengikuti perkembangan yang terjadi di dalam negeri tidak pernah padam. Ada pemberitaan yang sangat menarik dan cukup mengusik fikiran saya ketika menyimak berita tersebut, yakni berita tentang rencana pemerintah DKI Jakarta untuk menarik pajak dari para pedagang WARUNG TEGAL alias WARTEG. Ada rasa sedih bercampur sedikit marah mendengar rencana pemda tersebut.

              Sedih karena terbayang oleh saya bagaimana suasana ketika saya sering makan di warung tegal beberapa tahun yang lalu. Saya adalah salah seorang penggemar warung tegal. Ada beberapa alasan kenapa saya senang makan di warteg. Pertama menu yang ditawarkan sangat bervariasi. Alasan kedua dan ini yang paling penting yaitu harga yang sangat murah. Warteg sangat membatu saya pada masa-masa mencari kerja setamatnya kuliah. Hampir setiap hari saya makan di warteg. Berbagai warteg telah saya coba dan hampir semuanya memberikan harga yang sangat meringankan kantong yang pas-pasan. Pada saat makan di warteg itulah saya menyaksikan bahwa begitu banyak masyarakat yang terbantu dengan keberadaan warteg tersebut. Memang sepertinya konsumen warteg lebih banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah. Atau barangkali kalangan menengah tidak termasuk melainkan kalangan bawah saja? Entahlah. Tapi yang jelas pada jam-jam makan, kita akan banyak menyaksikan konsumen warteg dengan penampilan yang agak lusuh dan berbau keringat. Tidak sedikit konsumen yang hanya memesan menu nasi putih dengan sayur serta tahu dan tempe sebagai teman nasinya. Sepertinya untuk makan dengan ikan atau dagingpun kantung mereka merasa berat.

              Saya tertarik dan sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia ( YLKI ) yang dimintai pendapatnya pada acara televisi tersebut. Ia mengatakan bahwa konsumen warteg pada umumnya adalah masyarakat yang membeli makanan untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokoknya yaitu kenyang. Mereka datang ke warteg bukan untuk membeli kemewahan ataupun prestise sebagaimana halnya sebagian masyarakat lain yang mampu makan di , restoran. Konsumen warteg sebagian besar adalah masyakarakat yang tujuan makannya hanya agar kenyang sehingga bisa melanjutkan akitifitas berikutnya. Apakah terhadap kelompok masyarakat seperti ini, Pak FAUZI BOWO tega menarik pajak?

              Kepada Bapak Gubernur DKI, sebelum bapak mengambil keputusan untuk memajaki konsumen warteg yang sebagian berpakaian lusuh tersebut. Sebelum Bapak memungut pajak terhadap para pedagang warteg yang telah membantu bapak meringankan beban hidup warga Jakarta yang bapak pimpin. Ada baiknya bapak selama seminggu mencoba makan siang di beberapa warteg yang berbeda agar bapak bisa menyaksikan betapa tertolongnya warga bapak dengan keberadaan warteg tersebut. Agar bapak bisa menyaksikan bahwa warga bapak yang menjadi konsumen utama warteg, bukanlah orang-orang yang layak bapak tariki pajak. Seharusnya Bapak berterima kasih kepada para pedagang warteg, bukannya malah menambah beban kepada mereka. Seharusnya Bapak malah memberikan kemudahan-kemudahan kepada pemilik warteg, bukannya malah memberikan keresahan kepada mereka. Sekali lagi saya menyarankan agar Bapak dan kepala dinas pendapatan daerah meluangkan waktu untuk makan di warteg.

             

2 Tanggapan to “PAK FAUZI BOWO, PLEASE JANGAN PAJEKI ( TARIK PAJAK ) WARTEG”

  1. info menarik, makasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: