DAN SALJUPUN MEMUTIHKAN BUMI TOKYO METRO

            Sekitar satu minggu yang lalu tepatnya tanggal 8 Februari, saya beserta dua orang teman pergi ke kota Kawasaki untuk suatu keperluan. Salah satu dari teman saya tadi telah jauh lebih lama kuliah di Tokyo dibandingkan saya dan seorang teman yang lain. Pada saat itu saya sempat melontarkan pernyataan “ Salju kok belum turun yaa “. Pernyataan tersebut saya lontarkan karena beberapa waktu sebelumnya saya sempat membuka kembali foto-foto tahun lalu ketika saya melihat salju untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Dari tulisan yang ada di dalam foto-foto tersebut saya ketahui bahwa ternyata pada tahun lalu, puncak turunnya salju yaitu tanggal 2 Februari. Seingat saya salju hanya tiga atau empat kali menghujani bumi salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi di dunia tersebut.

            Teman saya yang sudah lebih lama tinggal di Tokyo Metro tadi lalu menjawab “ Sepertinya salju tidak bakalan turun lagi “. Teman tadi mengatakan bahwa Tokyo memang tidak selalu disinggahi oleh salju pada setiap musim dingin. Ditambah lagi kondisi udara pada hari kami ke Kawasaki tersebut memang labih hangat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bahkan udara yang memang terasa tidak terlalu dingin tersebut, sudah kami rasakan sejak beberapa hari sebelumnya. Saya sempat merenung sejenak. Saya kembali teringat dengan kata-kata yang pernah disampaikan oleh salah seorang konsultan yang mengurus beasiswa saya tahun lalu. Saat itu beberapa kali dia mengatakan kepada saya bahwa jika beruntung, saya mungkin akan melihat turunnya salju di Tokyo.

            Manusia memang hanya bisa memperkirakan. Kekuasaan dan keputusan tetap di tangan Yang Maha Kuasa. Tiga hari setelah percakapan kami hari itu, tepatnya di hari Sabtu pagi, 12 Februari, salju mulai jatuh dari langit Tokyo meskipun hanya berupa gumpalan-gumpalan kecil yang segera mencair ketika ia menyentuh tanah. Keesokan harinya kondisi yang sama terjadi. Barulah pada tanggal 14 Februari malam, hujan salju benar-benar memutihkan bumi Tokyo. Kalau saya perhatikan, salju tahun ini ternyata lebih banyak di bandingkan tahun lalu. Saya terpaksa harus lebih berhati-hati ketika berjalan, takut kalau terpeleset. Terngiang kembali di telinga saya apa yang pernah disampaikan oleh salah seorang sukarelawan pengajar bahasa Jepang  di  tempat saya kursus. Saat itu saya begitu gembira dan mengungkapkan kegembiraan tentang pengalaman pertama melihat salju kepadanya. Dia menanyakan kepada saya, jikalau saya tidak apa-apa dan tidak terpeleset. Karena katanya lagi bahwa banyak juga orang yang terngelincir / terpeleset dan jatuh ketika berjalan di atas jalan yang diselimuti salju.

            Salju yang begitu banyak turun membuat saya untuk memutuskan bahwa saya lebih baik pulang ke rumah dari stasiun dengan menggunakan bis. Saya memilih untuk meninggalkan sepeda yang telah beberapa bulan terakhir memberikan tumpangan kepada saya selama perjalan dari apato ke stasiun dan sebaliknya setiap harinyab di tempat parkir. Biarlah sepeda tersebut bermalam di parkiran tersebut. Toh juga tidak akan ada yang mencurinya. Sebuah rasa aman yang diberikan oleh negeri yang masih memiliki kaisar sampai saat ini. Dengan menumpang bis, saya bisa turun di halte yang hanya berjarak sekitar 30 meter dari apato saya.

            Ada beberapa hal yang ingin saya coba untuk menyimpulkan terkait dengan dua musim dingin yang telah saya lalui di Jepang. Pertama dari kedua musim tersebut ternyata salju turun pada bulan Februari, yakni pada Minggu pertama tahun lalu dan pada minggu kedua di tahun ini. Jadi walaupun mungkin tidak terlalu kuat, saya bisa menyarankan bahwa jika ingin menikmati turunnya salju di Tokyo Metro, maka masa itu ada di dalam bulan Februari. Kedua, turunnya salju di Tokyo Metro biasanya menandakan bahwa puncak dari musim dingin telah terjadi. Setelah masa turunnya salju berakhir, maka udara akan berangsur-angsur menjadi lebih hangat dan nyaman. Artinya hari-hari dengan kondisi udara yang lebih hangat akan lebih sering dijumpai diantara hari-hari dengan udara dingin. Tadi malam ( 17 Februari ), saya sempat melihat perkiraan cuaca di internet, dan ternyata suhu udara Tokyo Metro berada di kisaran belasan derajat celcius. Dan memang dari kemarin siang saya merasakan udara yang nyaman. Saya tidak perlu mengenakan baju hangat ketika saya harus pergi ke sebuah bank yang jaraknya beberapa puluh meter dari kampus. Sayapun tidak merasakan dingin ketika saya mencoba menyentuh lantai apato. Ketiga, sepertinya benar apa yang dikatakan oleh beberapa orang kepada saya, bahwa winter tahun ini lebih dingin dibandingkan tahun lalu.

            Satu hal lagi yang saya rasakan berbeda pada musim dingin tahun ini, dan ini membuat saya merasa lebih senang yaitu bahwa alhamdulillah saya merasa lebih adaptif terhadapnya. Beberapa bagian tubuh yang terasa gatal pada musim dingin tahun lalu, di musim dingin tahun ini sudah tidak saya alami lagi. Kulit muka yang menjadi kering dan menyebabkan sebagian kulit arinya mengelupas di tahun lalu, sudah tidak saya alami di tahun ini. Saya tidak perlu lagi mengoleskan vaselin di wajah dan beberapa bagian tubuh lain yang kering seperti yang saya lakukan pada tahun lalu. Bibir saya memang sempat pecah di awal musim dingin tahun ini, tapi segera membaik dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan apapun. Kondisi yang jauh lebih berat saya alami di tahun lalu pada bibir saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: