SIFAT SABAR TERNYATA TANPA BATAS

            Acara tausiah yang dipandu oleh Cheche Khirani di stasiun TV One begitu menarik perhatian. Menarik, tidak hanya karena pembawa acaranya yang memang good loking, atau karena cara penyampaian ustadnya yang memang menyejukkan, tetapi daya tarik utamanya justru terletak pada materi yang disampaikan. Cara penyampaian sang nara sumber mengingatkan saya pada sosok AA Gym yang belakangan kembali menghebohkan pemberitaan di berbagai media massa. Tutur kata mereka sama-sama lembut, menyiratkan kalau mereka juga berasal dari daerah yang sama, Jawa Barat. Ustad ini pun dipanggil dengan sebutan AA. Saya belum hapal namanya.

            Tayangan pagi ini membahas tentang sabar. Pembawa acara membuka dengan sebuah pertanyaan. Pertanyaan tentang apa sih sebenarnya sabar tersebut? Apakah sabar itu ada batasnya? Sang ustad tidak langsung menjawab. Dia malah balik mengajukan pertanyaan kepada si pembawa acara dan juga ibu-ibu majelis taklim yang menyaksikan acara tersebut secara langsung di studio. Pertanyaannya adalah “ Jika kepada ibu-ibu yang hadir diberikan dua pilihan, suami yang kaya tapi kikir dan suami yang dermawan tapi miskin, mana yang akan mereka pilih “. Secara logika tentunya kedua pilihan tersebut bukanlah merupakan pilihan yang ideal. Seandainya ada pilihan ketiga dimana sang suami kaya dan dermawan, tentunya semua ibu-ibu akan memilih pilihan yang terakhir. Tetapi pilihannya hanya dua, tanpa alternatif yang ketiga.       Setelah mengajukan pertanyaan tersebut dan para ibu yang hadir lebih banyak yang merespon dengan mesem-mesem, tanda bahwa mereka berat untuk memilih satu di antara dua pilihan tersebut, Pak ustad lalu melanjutkan bahwa itulah kehidupan. Hidup itu bukanlah apa yang kita inginkan, tetapi apa yang kita jalankan. Kalau hidup adalah apa yang kita inginkan, tentunya semua ibu-ibu akan mengiginkan alternatif ketiga. Tetapi ternyata pilihannya hanya dua. Dengan kata lain, tidak semua hal yang kita inginkan, tidak semua hal-hal yang ideal, menjadi bagian dalam kehidupan kita. Nah untuk menjalani kehidupan yang seperti itulah, maka sifat sabar sangat diperlukan.

            Sifat sabar akan membuat kita selalu bisa mensyukuri apa yang telah Allah SWT tetapkan untuk menjadi bagian dalam hidup kita walaupun hal tersebut bukanlah seperti apa yang selama ini kita cita-citakan. Memiliki pasangan hidup yang sempurna, memiliki ruma mewah, memiliki anak-anak yang membanggakan, memiliki banyak harta dan lain sebagainya, tentunya merupakan impian semua orang. Sifat sabar akan membuat kita dapat menikmati setiap detik kehidupan dengan hati yang lapang yang tentunya akan berujung pada kebahagiaan. Yaa kebahagiaan, salah satu tujuan utama yang selalu diburu oleh manusia. Kebahagiaan tidak identik dengan harta. Kebahagiaan adalah suasana hati yang selalu diliputi dengan sifat sabar.

            Apakah sabar tersebut ada batasnya? Kita mungkin sering mendengar kata-kata seperti ini “ orang sabar itu kan  ada batasnya”. Ternyata hal itu tidak benar. Sabar ternyata tanpa batas. Jika ada batas, berarti itu bukan lagi sabar. Sebagian orang kadang mengeluh kenapa yaa, cobaan atau kesulitan selalu datang pada diri mereka. Setiap ketetapan Allah terhadap hamba-Nya selalui disertai dengan maksud. Cobaan yang Dia berikan kepada makhluk-Nya adalah cara-Nya untuk menguji kesabaran hamba-hamba tersebut. Jika seseorang lolos dalam ujian tadi, maka Allah akan mengangkat derajat orang itu ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini bisa dianalogikan dengan para murid yang harus mengikuti kegiatan ujian jika mereka ingin naik ke kelas yang lebih tinggi levelnya. Terkait dengan sabar ini, maka Allah memerintahkan kita untuk bersabar, kemudian meningkatkan kesabaran, dan setelah itu berwaspada. Berwaspada terhadap ketidak sabaran/ berhenti bersabar/  pernyataan bahwa sabar itu ada batasnya. Untuk itu, sebagai sesame manusia kita harus saling mengingatkan. Mengingatkan saudara kita yang suatu ketika mungkin lupa kalau ia harus selalu bersabar menjalani segala ketetapan Tuhan.

 

Begitula salah satu hal berharga yang saya dapatkan dari siaran televise tadi. Acara ini ditayangkan mulai pukul 03.30 dini hari. Waktu yang menurut saya mungkin kurang pas. Kurang tepat karena masih sangat dini.  Mungkin belum banyak orang yang terbangun pada saat tersebut. Sehingga pesan mulia tadi tidak bisa sampai kepada lebih banyak pemirsa. Coba seandainya acara tersebut bisa digeser pada jam-jam dimana orang sudah pada terbangun. Seperti setelah sholat subuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: